RRI.CO.ID, Jakarta - Direktur Pengembangan Ekspor Produk Manufaktur Kementerian Perdagangan, Deden Muhammad Fajar Shiddiq, menyebut proyek TRISEG harus membantu mengurangi defisit perdagangan Indonesia-Kanada. Program tersebut akan mendukung 200 usaha kecil dan menengah (UKM) Indonesia selama lima tahun.
TRISEG merupakan singkatan dari Trade for Resilient, Inclusive and Sustainable Economic Growth. Program tersebut melibatkan lembaga pendukung perdagangan serta mitra sektor publik dan swasta untuk memperkuat layanan bagi pelaku usaha.
Deden menyebut nilai perdagangan bilateral Indonesia-Kanada mencapai 4,36 miliar dolar AS sepanjang 2025. Nilai tersebut meningkat 21,8 persen dibandingkan perdagangan kedua negara pada 2024.
Hingga Agustus 2026, perdagangan bilateral kedua negara mencapai 3,51 miliar dolar AS. Angka tersebut meningkat 15,5 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Deden menjelaskan ekspor Indonesia ke Kanada mencapai 1,12 miliar dolar AS. Sementara itu, ekspor Kanada ke Indonesia tercatat sebesar 2,39 miliar dolar AS hingga Agustus 2026.
"Sehingga, sayangnya hingga Agustus 2026, kita masih mengalami defisit perdagangan. Sebesar 1,37 miliar dolar AS," ujar Deden dalam peluncuran proyek ‘Trade for Resilient, Inclusive and Sustainable Economic Growth (TRISEG)’ di sektor kerajinan (handicraft) di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta, Selasa, 3 November 2026.
Deden menegaskan TRISEG harus membantu mengurangi defisit perdagangan Indonesia-Kanada. Upaya tersebut ditargetkan tercapai dalam beberapa tahun ke depan.
"Oleh karena itu, proyek TRISEG ini pastinya harus membantu kita untuk mengurangi defisit perdagangan antara Indonesia dan Kanada. Kita harus mengurangi defisit perdagangan kita dengan Kanada dalam beberapa tahun ke depan," kata Deden.
[bacajuga=1;title="KBRI Ottawa Siap Hubungkan UKM Indonesia dengan Calon Pembeli Kanada";sumber="berita"]
Sektor kerajinan menjadi salah satu bidang yang disoroti untuk memperluas ekspor Indonesia ke Kanada. Nilai ekspor kerajinan Indonesia mencapai 8,41 juta dolar AS sepanjang 2025, meningkat 21,8 persen dibandingkan 2024.
Hingga Agustus 2026, ekspor kerajinan Indonesia ke Kanada mencapai 8,15 juta dolar AS. Nilai tersebut meningkat 46,5 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Di sisi lain, Kanada mengimpor produk kerajinan senilai 700,7 juta dolar AS sepanjang 2025. Deden menyebut pangsa ekspor kerajinan Indonesia di pasar Kanada baru sekitar 1,2 persen.
Deden menilai pasar kerajinan Kanada memiliki peluang besar bagi eksportir Indonesia. Ia mendorong eksportir, khususnya di sektor kerajinan, untuk memanfaatkan potensi pasar tersebut.
Deden mengatakan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Kanada atau Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) menjadi peluang bagi eksportir Indonesia. Sekitar 20 persen pos tarif produk Kanada akan diturunkan untuk produk ekspor Indonesia ke Kanada setelah perjanjian berlaku.
"Ini merupakan peluang besar bagi seluruh eksportir Indonesia. Khususnya di sektor kerajinan untuk mengekspor ke Kanada," ucap Deden.
Melalui TRISEG, sebanyak 200 usaha kecil dan menengah (UKM) Indonesia akan mendapat dukungan selama lima tahun. Program tersebut menargetkan 20 kesepakatan pasar baru dan 20 pembeli baru dari Kanada.
"Program ini akan didukung asosiasi bisnis, eksportir, dan Indonesia Eximbank, yang akan mendukung 200 usaha kecil dan menengah selama 5 tahun. Hasil yang diharapkan adalah tercapainya 20 kesepakatan pasar (market deals) baru dan 20 pembeli baru dari Kanada," ujar Deden.
[bacajuga=2;title="Kanada Targetkan Dukung 200 UKM Indonesia, Fokus pada Usaha Perempuan";sumber="berita"]
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.