RRI.CO.ID, Kota Bekasi- Gunungkidul adalah nama sebuah kabupaten di sudut selatan-timur Daerah Istimewa Yogyakarta. Nama Gunungkidul yang berarti "gunung di sebelah selatan", memang sebutan yang pas untuk kabupaten itu.

Wilayahnya ini berada di atas pegunungan batu kapur yang bernama "Pegunungan Sewu", terletak di sebelah selatan pulau Jawa yang berbatasan dengan Laut Kidul atau Samudra Hindia. Tanah di Gunungkidul sebagian besar berbentuk batu kapur (karst) yang tandus, keras dan tidak subur. Tanah ini tidak bisa untuk bertani sebagaimana layaknya tanah di Pulau Jawa.

Hanya singkong, bukan padi yang bisa tumbuh. Karena itu makanan pokok di daerah ini pada masa lalu adalah Tiwul dan Gaplek yang berbahan dasar singkong.

Bahkan karena ketidaksuburan itulah pada masa lalu, di wilayah Gunungkidul sering terjadi "busung lapar". Masa-masa sulit nan kelam itu terjadi tahun 1950-n hingga 1970-an. Itulah masa "Paceklik", sulitnya hidup, kerasnya alam di daerah ini, karena tidak ada makanan.

Beratnya kondisi alam itu membuat banyak orang Gunungkidul yang memutuskan untuk merantau, mengadu nasib di kota-kota besar. Tujuan utama sebagian besar mereka adalah ke wilayah Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek).

Kini wilayah Gunung Kidul sudah berbeda, masyarakat telah bangkit untuk membangun daerah itu menjadi daerah tujuan wisata yang khas. Pegunungan kapur yang dulu menjadi malapetaka, kini diubah eksotik menjadi salah satu daya tarik wisatawan.

Masa paceklik yang pahit di masa lalu kini dijadikan sebuah "Festival Paceklik" sebagai tontonan wisata bagaimana kearifan lokal berupa ritual khas untuk mengatasi kekeringan.

Situasi yang penuh harapan itu terjadi baru beberapa tahun ini. Jauh di masa lalu, para petani, buruh tani dan dan sebagian besar warga sudah terlanjur merantau dan perantauan itu kini telah membuahkan hasil.

Jejak perantauan yang pahit itu kini telah berbuah manis. Warga Kabupaten Gunungkidul yang merantau di Jabodetabek menggelar pekan olahraga. Kegiatan ini sengaja digelar guna menjaga kerukunan dan mempererat silaturahmi warga Gunungkidul di perantauan.

Kegiatan tersebut bertajuk Pekan Olahraga Ikatan Keluarga Gunung Kidul (POR IKG). Kegiatan ini digelar di Bekasi International Soccer Field (BISF), Kota Bekasi dari 1-8 November 2026 yang akan diikuti 1.500 peserta.

Lamanya waktu pelaksanaan ini (satu minggu) dan banyaknya jumlah peserta menunjukan betapa antusiame masyarakat warga Gunungkidul di perantauan. Pahitnya kehidupan masa lalu di Gunungkidul terbayar sudah dengan kemakmuran dan kesejahteraan yang bisa diraih di Jabodetabek.

POR ini juga menunjukan soliditas warga Gunungkidul, Ada banyak kaum perantauan di Jabodetabek yang memiliki kesamaan asal usul, namun tidak banyak yang bisa mengadakan acara bersama seperti POR Gunungkidul ini.

Jumlah warga Gunung Kidul di Jabodetabek diperkirakan sekitar 350.000 orang. Jumlah ini setara dengan separuh dari warga Gunungkidul di tempat asal yaitu sekitar 700.000 jiwa.

Warga Gunungkidul di Jabodetabek banyak yang bekerja sebagai pedagang, pekerja pabrik, kaum profesional di berbagai perusahaan swasta atau di berbagai sektor publik dan ada pula yang sukses sebagai pengusaha.

POR IKG kali ini merupakan penyelenggaraan ke 1 atau perdana. Kegiatan ini terselenggara berkat Ikatan Keluarga Gunungkidul. Sedangkan jenis olahraga yang dipertandingkan antara lain, sepak bola, bola voli, tenis meja, dan badminton.

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya POR IKG di Kota Bekasi. Pihaknya juga berpesan kepada Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto agar melibatkan warga Gunungkidul dalam agenda pembangunan daerah.

“Warga Gunungkidul yang hadir di sini merupakan bagian dari masyarakat Kota Bekasi. Kami berharap mereka juga dapat dilibatkan dalam setiap kegiatan dan event yang diselenggarakan Pemerintah Kota Bekasi," katanya, melalui keterangan persnya, Senin, 2 November 2026.

Sementara itu, Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto mengaku senang Kota Bekasi dipilih menjadi tempat pelaksanaan POR IKG ke 1 atau perdana. Ia juga mengapresiasi hadirnya Bupati Gunungkidul, Endah Subekti pada perhelatan POR IKG ke 1.

"Terima kasih telah mempercayakan Kota Bekasi sebagai tempat penyelenggaraan POR IKG pertama. Semoga kegiatan ini semakin mempererat persaudaraan dan kebersamaan di antara kita," katanya.

Ketua Umum IKG, Saimo menjelaskan bahwa POR IKG tidak hanya berorientasi pada kompetisi olahraga. Tetapi juga menjadi ruang pertemuan dan silaturahmi bagi warga Gunungkidul yang tersebar di wilayah Jabodetabek dan Banten.

"POR IKG ini juga menjadi bagian dari komitmen yang kita tuangkan dalam Sapta Cita IKG menuju organisasi yang berdaya, bermanfaat, dan mandiri. Melalui penyelenggaraan POR IKG Ke-1 Tahun 2026, diharapkan semangat persaudaraan warga Gunungkidul semakin kuat," ujarnya.