RRI.CO.ID, Jakarta - Sebanyak 25 UKM dari 20 perguruan tinggi peserta Campuspreneur mencatat potensi transaksi sebesar USD24,57 juta (Rp445,53 miliar) dalam Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41. Dari jumlah tersebut, USD21,46 juta (Rp389,13 miliar) telah ditindaklanjuti melalui letter of intent (LoI).

TEI ke-41 berlangsung pada 14-18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten. Capaian tersebut menjadi bagian dari komitmen Kementerian Perdagangan (Kemendag) dalam mengembangkan Campuspreneur.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag, Johni Martha, menjelaskan Campuspreneur mendorong mahasiswa mengembangkan ide dan potensi bisnis sejak bangku kuliah. Kemendag memberikan dukungan mulai dari peningkatan kualitas produk, pengemasan, dan branding hingga menghubungkan produk dengan calon buyer dan pasar ekspor.

“Melalui Campuspreneur, Kemendag ingin mendorong mahasiswa untuk mengembangkan ide dan potensi bisnis sejak di bangku kuliah. Kami mendukung proses tersebut, mulai dari peningkatan kualitas produk, pengemasan, dan branding, hingga membantu menghubungkan produk dengan calon buyer dan pasar ekspor,” ujar Johni di Auditorium Kemendag, Jakarta, Sabtu, 31 Oktober 2026.

Kemendag memperkenalkan program tersebut melalui Kuliah Umum dan Lokakarya Pengembangan Ekspor Produk Agribisnis. Kegiatan tersebut dihadiri lebih dari 185 mahasiswa dan dosen Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University.

Campuspreneur merupakan bagian dari program prioritas Kemendag bertajuk Dari Lokal untuk Global. Program tersebut menghubungkan penguatan usaha di dalam negeri dengan perluasan akses pasar internasional.

Kemendag juga menjalankan program Usaha Mikro Kecil Menengah Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor), Desa BISA Ekspor, dan Kemitraan UMKM. Berbagai program tersebut mendorong pelaku usaha meningkatkan kesiapan produk, memperkuat daya saing, serta memanfaatkan jejaring perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri.

[bacajuga=1;title="Presiden Prabowo Resmikan SMA Taruna Nusantara Kampus Cimahi";sumber="berita"]

Kemendag juga memperluas akses pasar melalui perjanjian perdagangan internasional. Hingga saat ini, Indonesia memiliki 25 perjanjian perdagangan yang telah berlaku, dua perjanjian dalam proses ratifikasi, 13 perjanjian masih dalam tahap perundingan.

Johni menyebut pelaku usaha perlu memenuhi standar, menjaga kualitas, dan memahami ketentuan pasar tujuan. Mahasiswa yang mulai membangun usaha juga perlu mengenali peluang pasar global sejak awal serta mempersiapkan produknya agar mampu bersaing.

“Peluang tersebut perlu diikuti kesiapan pelaku usaha dalam memenuhi standar, menjaga kualitas, dan memahami ketentuan pasar tujuan. Mahasiswa yang mulai membangun usaha perlu melihat peluang pasar global sejak awal dan mempersiapkan produknya agar mampu bersaing,” kata Johni.

Ketua Program Studi Doktor Sains Agribisnis IPB University, Bayu Krisnamurthi, mengapresiasi Kemendag dan para narasumber yang berbagi pengalaman serta pengetahuan kepada mahasiswa. Menurutnya, kunjungan langsung ke Kemendag menjadi bagian dari pengayaan wawasan mahasiswa di luar ruang perkuliahan.

“Kami berterima kasih kepada Kemendag dan para narasumber atas kesediaannya berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan mahasiswa. Kesempatan untuk hadir langsung di Kemendag menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa untuk memperkaya wawasan dan mengenal lebih dekat dunia perdagangan,” ujar Bayu.

Direktur Bina Pasar Kemendag, Miftah Farid, menjelaskan pengembangan ekspor agribisnis memerlukan peningkatan nilai tambah produk. Transformasi tersebut mencakup peningkatan produktivitas, pengolahan, dan penguatan daya saing.

Pendiri PT Nusa Tropical Indonesia, Pekik Warnendya, menyampaikan keberhasilan ekspor tidak hanya ditentukan kualitas dan daya saing produk. Kebijakan serta diplomasi perdagangan juga berperan dalam membuka akses pasar internasional.

“Mahasiswa juga dapat memanfaatkan media sosial Perwakilan Perdagangan Indonesia di luar negeri untuk mengakses market intelligence, market brief, dan market inquiry. Informasi tersebut dapat menjadi bekal bagi generasi muda, khususnya Gen Z, untuk mengenali peluang pasar dan mengembangkan usaha hingga menjadi eksportir,” ujar Pekik.

[bacajuga=2;title="Korlantas Polri Jemput Bola Layanan SIM hingga Desa, Sekolah, Kampus, dan Pesantren";sumber="berita"]