RRI.CO.ID, Jakarta - Sekitar 50.000 kasus baru penyakit jantung bawaan pada anak diperkirakan terjadi setiap tahun di Indonesia. Meski demikian, dari angka tersebut sekitar 5.000 anak atau 10 persen memperoleh penanganan.
Terkait hal itu, Direktur Utama RSJPD Harapan Kita, Iwan Dakota, menekankan pentingnya deteksi dini kesehatan jantung. Ia menekankan lingkungan pendidikan berperan penting dalam mendorong pemahaman dan deteksi dini penyakit jantung pada anak.
“Peningkatan literasi kesehatan jantung harus dimulai sejak dini agar anak-anak memahami pentingnya menjaga kesehatan jantung. Kami percaya seluruh ekosistem pendidikan perlu dilibatkan untuk meningkatkan kesadaran dan mendukung deteksi dini penyakit jantung,” kata Iwan Dakota saat memberikan sambutan dalam Seminar Awam dan Skrining Penyakit Jantung Bawaan, di SDN SDN 07 dan 08 Jatipulo, Jakarta Barat, Selasa, 3 November 2026.
Iwan mengatakan, deteksi penyakit jantung bawaan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak untuk meningkatkan penanganan sejak dini pada anak. Keterlibatan Puskesmas, orang tua, dan sekolah dinilai penting untuk mendukung upaya mengenali gejala penyakit jantung bawaan.
Kolaborasi ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan jantung anak sejak dini. Selain itu, upaya ini memperkuat deteksi dini dan tindak lanjut bagi anak yang membutuhkan pemeriksaan serta penanganan kesehatan jantung,” ucap Iwan.
Karena itu, RSJPD Harapan Kita menggelar edukasi kesehatan jantung dan skrining penyakit jantung bawaan bagi siswa SD di Jatipulo, Jakarta Barat. Kegiatan ini melibatkan orang tua dan guru untuk meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya deteksi dini gangguan jantung pada anak.
“Penguatan edukasi dan deteksi dini diharapkan membantu anak memperoleh diagnosis serta penanganan penyakit jantung bawaan secara tepat. Dengan demikian, kualitas hidup anak dapat meningkat dan masa depan mereka menjadi lebih terjaga,” ucap Iwan menjelaskan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.