RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini, Senin 2 November 2026. Mengacu data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,05 persen atau 9 poin ke posisi Rp18.156 per dolar AS.
Sentimen investor dipengaruhi oleh perkembangan konflik antara AS dan Iran. “Presiden Trump menyampaikan kepada Netanyahu bahwa ia memilih memberikan waktu untuk diplomasi sebelum memutuskan tindakan militer,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Senin, 2 November 2026.
Sikap Trump membuat Netanyahu khawatir dan mendesak agar AS memulai serangan ke Iran.Di sisi lain, pejabat Iran dan Qatar telah berdiskusi selam tiga hari berturut-turut untuk mengakhiri konflik.
Teheran menyatakan tetap terbuka terhadap diplomasi, tapi tetap bersiap untuk mempertahankan diri. Qatar berupaya menengahi dengan mengusulkan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Kondisi itu membuat pasar kembali bersikap ‘wait and see’. Jika AS kembali melakukan serangan ke Iran, kemungkinan perang besar akan terjadi.
[bacajuga=1;title="Gangguan di Sentra Produksi Penyebab Harga Cabai Mahal";sumber="berita"]
[bacajuga=2;title="BEI Mulai Hari Ini Keluarkan HSC dari Perhitungan IHSG";sumber="berita_video"]
Dari sisi ekonomi, sejumlah pejabat the Fed menyerukan kebijakan pengetatat lebih lanjut.Presiden The Fed Dallas, Lorie Logan, menyerukan dua kali kenaikan suku bunga.
Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, menyerukan kenaikan suku bunga tambahan dalam waktu dekat. Ia menilai kebijakan saat ini masih terlalu longgar.
Selajutnya, pasar akan mencermati data PMI Manufaktur dan indeks Jasa dari Institute for Supply Management (ISM) untuk bulan Oktober. Data tenaga kerja juga akan menjadi perhatian pasar, termasuk dana tenaga kerja non-pertanian (Non-Farm Payroll).
Di dalam negeri, pelaku pasar laporan Badan Pusat Statistik mengenai neraca perdagangan dan inflasi.Neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 surplus sebesar USD3,36 miliar.
Surplus berasal dari nilai ekspor sebesar USD27,59 miliar, sedangkan impor membukukan USD24,23miliar. “Kinerja ekspor impor dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak yang mengerek nilai impor Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan ekspor,” ujar Ibrahim.
Surplus perdagangan, lanjutnya, menjadi sentimen positif bagi fundamental ekonomi Indonesia dan berpotensi mendukung penguatan rupiah. Namun, pasar tetap perlu mencermati kualitas pertumbuhan ekspor, perkembangan impor, serta arus modal asing.
“Sebab, surplus perdagangan yang kuat belum tentu secara langsung membuat rupiah menguat. Utamanya apabila tekanan dari dolar AS dan faktor eksternal masih tinggi,” ucapnya.
Sementara itu inflasi Indonesia bulan Oktober sebesar 0,22 persen secara bulanan . Inflasi ini mencerminkan kenaikan harga barang dan jasa masih relatif terkendali,” ujar Ibrahim menutup analisisnya.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.