RRI.CO.ID, Singapura — Perubahan iklim diperkirakan akan menurunkan produksi sejumlah komoditas pertanian utama di Asia Tenggara dalam dua dekade mendatang. Hal tersebut terungkap dalam studi yang dirilis Badan Pangan Singapura dan National University of Singapore pada Kamis, 29 Oktober 2026.
Studi tersebut memproyeksikan produksi beras mengalami penurunan rata-rata sebesar 3 hingga 5 persen pada periode 2025–2044. Sementara itu, produksi jagung diperkirakan turun sekitar 5 hingga 6 persen dan tebu sebesar 1 hingga 4 persen, dilansir dari Xinhua.
Tidak semua komoditas pertanian diproyeksikan mengalami penurunan akibat perubahan iklim. Produksi singkong diperkirakan meningkat sekitar 16 persen, sementara kedelai berpotensi naik sebesar 11 hingga 13 persen.
[bacajuga=1;title="Studi: Target Emisi Nol Bersih Penting untuk Batasi Dampak Iklim Jangka Panjang";sumber="berita"]
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim dapat bervariasi pada setiap jenis tanaman. Namun, peningkatan produksi sejumlah komoditas tidak berarti sektor pertanian terbebas dari risiko perubahan iklim.
Cuaca ekstrem, seperti gelombang panas, hujan lebat, dan kekeringan, tetap dapat mengganggu pertumbuhan tanaman serta hasil panen dalam periode tertentu. Penelitian tersebut juga memperingatkan dampak fenomena El Nino yang sangat kuat.
[bacajuga=2;title="Pemimpin Negara Kepulauan Pasifik Soroti Ancaman Perubahan Iklim di PBB";sumber="berita"]
Kondisi tersebut berpotensi menurunkan rata-rata produksi berbagai tanaman di Asia Tenggara hingga sekitar 10 persen. Tanaman padi dan sistem pertanian yang bergantung pada curah hujan dinilai lebih rentan terhadap dampak tersebut.
Selain itu, Asia Tenggara diperkirakan menghadapi peningkatan suhu dan gelombang panas yang lebih sering dan berlangsung lebih lama. Asia Tenggara juga diperkirakan akan menghadapi pola curah hujan yang semakin tidak menentu.
[bacajuga=3;title="PM Nepal Serukan Keadilan Iklim, Usulkan Mekanisme Ketahanan Himalaya";sumber="berita"]
Perubahan tersebut dapat mengganggu ketersediaan air untuk pertanian dan memengaruhi jadwal penanaman di berbagai wilayah. Ketidakpastian kondisi cuaca juga berpotensi menyulitkan petani dalam menentukan waktu tanam yang tepat.
Dampaknya dapat terlihat pada produktivitas tanaman dan jumlah hasil panen yang diperoleh. Penurunan produksi sejumlah komoditas utama pada akhirnya berpotensi menimbulkan tantangan bagi ketahanan pangan kawasan.
Negara-negara Asia Tenggara perlu memperkuat upaya adaptasi terhadap perubahan iklim. Langkah tersebut penting untuk menjaga keberlanjutan produksi pertanian dan memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.