BAGI Bayu Anugrah, pengalaman sulit di masa kecilnya bukan alasan untuk berhenti bergerak. Ia mengubah pengalaman hidupnya menjadi empati untuk memahami orang lain dan menghadirkan manfaat bagi sesama lewat komunitas Galafund Indonesia.
Lahir dan besar di Bogor, Bayu tumbuh di keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Sang Ayah meninggal dunia ketika ia berusia empat tahun, sehingga Bayu menyaksikan ibunya membesarkan ia dan dua kakaknya seorang diri.
"Setelah Ayah meninggal ternyata aku punya kesempatan untuk bisa melihat gimana Mama berjuang untuk tiga orang anaknya. Mama melakukan pekerjaan yang menurutku butuh banget perjuangan," ujar Founder Galafund Indonesia itu kepada RRI.CO.ID melalui daring Sabtu, 31 Oktober 2026.
Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sang Ibu sempat bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Dari keseharian itulah Bayu mulai memahami arti perjuangan dan pentingnya pendidikan.
Sejak kecil, ia berusaha sungguh-sungguh dalam belajar dan mengejar prestasi. Karena baginya, pendidikan menjadi salah satu jalan untuk memperbaiki kehidupan keluarga sekaligus membuka kesempatan baru.
"Dari sebelum aku masuk TK, aku mikir harus jadi anak yang belajar sungguh-sungguh. Karena aku sendiri melihat bahwa pendidikanlah yang benar-benar bisa membawa aku mengangkat derajat keluargaku," katanya.
Founder Galafund Indonesia Bayu Anugrah saat mengikuti program pertukaran pelajar di Filipina. (Foto: Dokumentasi pribadi Bayu Anugrah yang diterima RRI.CO.ID)
Bayu juga enggan terus berkutat pada kesedihan masa lalu. Justru dirinya ingin menjadikannya bekal untuk memahami perjuangan orang lain.
"Paling sedih aja, aku yakin di luar sana lebih banyak gitu hal-hal yang mungkin harus lebih aku syukuri. Tapi aku lebih pengin menjadikan pengalaman masa lalu itu sebagai alasan untuk lebih memahami perjuangan orang lain," kata Bayu.
"Jadi aku nggak mau ngebiarin pengalaman sulit ini ninggalin luka aja. Aku pengin pengalaman ini jadi sumber empati aku," ujarnya.
Keinginan untuk berkembang sebenarnya sudah muncul sejak Bayu masih kecil. Ia terbiasa mengikuti perlombaan dan berusaha masuk tiga besar di kelasnya.
Ambisinya kemudian semakin kuat ketika ia mulai menduduki bangku perkuliahan. Pertemuan dengan banyak orang membuatnya semakin menyadari persoalan sosial di masyarakat.
Bayu mulai mempertanyakan, bagaimana kesempatan yang dimilikinya bisa bermanfaat bagi orang lain. Baginya, bertumbuh secara pribadi tidak cukup tanpa kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Pemikiran tersebut akhirnya menemukan jalannya melalui sebuah komunitas bernama Galafund Indonesia. Komunitas ini menjadi ruang bagi anak muda untuk berbagi dan memulai kegiatan sosial.
Berawal dari Ide saat Masih di Bangku SMA
Awalnya, gagasan tersebut muncul pada 2019 ketika Bayu masih duduk di bangku SMAN 2 Kota Bogor. Saat itu, ia bersama teman-teman sekelasnya tengah sibuk berjuang untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri.
Kesempatan mengikuti program kepemimpinan internasional di Thailand kemudian membuka pandangannya. Pengalaman tersebut membuatnya lebih percaya diri untuk menciptakan gerakan sendiri.
"Ternyata itu bikin aku lebih percaya diri untuk bisa create sesuatu. Akhirnya dari banyak murid yang ditawarin sama salah satu guru untuk cobain ngebuat satu gerakan, aku malah jadi pionirnya," katanya.
Bayu awalnya memulai dengan mengajak teman-teman sekelasnya berbagi 20 nasi bungkus pada Jumat. Rencana pengumpulan dana sebesar Rp200 ribu, ternyata berkembang hingga terkumpul Rp2 juta.
Jumlah tersebut membuat gerakan sederhana itu semakin meluas. Teman-teman satu angkatan hingga siswa dari angkatan lain kemudian ikut bergabung.
Memperluas Dampak Melalui Program Pendidikan dan Pendampingan
Dari lingkungan sekolah, Bayu mulai berani untuk membawa gerakan tersebut menjangkau masyarakat lebih luas. Salah satu programnya adalah berbagi sarapan Jumat bagi anak-anak yatim dan dhuafa (kurang mampu) di panti asuhan Bogor.
"Alhamdulillah kita jadi ketemu sama banyak orang lagi. Itu yang ngebuka akses kita buat bikin Galafund semakin berkembang," kata Bayu.
Pertemuan dengan berbagai pihak kemudian membuka kesempatan untuk mengembangkan kegiatan lainnya. Galafund mulai menghadirkan program tahunan seperti mengajak anak-anak yatim dan dhuafa mengunjungi tempat-tempat yang mungkin belum pernah didatangi.
Adapun pemberian santunan lewat kegiatan Yatim Time serta kajian-kajian untuk anak muda. Seiring perkembangannya, Galafund mulai memperluas kegiatan hingga menyentuh bidang pendidikan.
Kegiatan Yatim Time 2026 yang diselenggarakan oleh Galafund Indonesia. (Foto: Dokumentasi pribadi Bayu Anugrah yang diterima RRI.CO.ID)
Galafund Gelar Santunan 300 Anak yatim dan Dhuafa se-Kota Bogor lewat kegiatan Yatim Time yang dibuka Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim pada April 2024. (Foto: Dokumentasi pribadi Bayu Anugrah yang diterima RRI.CO.ID)
Salah satunya melalui Galafund Scholarship yang memberikan bantuan kepada anak yatim dan dhuafa yang sedang menduduki kelas enam sekolah dasar misalnya. Setiap penerima memperoleh beasiswa bulanan dan mentoring dari anggota atau sukarelawan komunitas.
"Karena siswa kelas enam itu memang masih usia anak yatim. Terus indikator keberhasilan dalam hal nilai akademiknya masih bisa terukur lebih mudah dan pas untuk menerima materi-materi mentoring," ujar Bayu menjelaskan sasaran penerima beasiswa Galafund.
Galafund Indonesia bersama anak-anak yatim Sekolah dasar penerima Galafund Scholarship. (Foto: Dokumentasi Galafund Indonesia)
Program tersebut sebenarnya berangkat dari pengalaman Bayu sendiri ketika masih sekolah dasar. Dahulu, ia juga pernah menerima bantuan pendidikan dari seorang donatur yang mengajak rekan-rekan kantornya berbagi.
Pengalaman itu kemudian mendorongnya menghadirkan kesempatan serupa melalui Galafund. Namun, ia ingin bantuan tersebut tidak hanya pemberian bantuan materi, tapi juga disertai perhatian terhadap perkembangan anak-anak yatim yang didampingi.
"Konsepnya sebetulnya hanya sebatas bantuan dana pendidikan mereka untuk ongkos, soalnya nggak seberapa ya. Tapi kita pengen mereka itu juga ngerasa semangat karena ada influence dari kita bahwa 'ada loh orang yang peduli sama pendidikan kamu'," ujarnya.
Perhatian Galafund terhadap pendidikan kemudian berkembang melalui kegiatan lainnya. Salah satunya Learning Expedition yang melibatkan anak-anak di The Yatim Village, Bogor.
Di tempat tersebut, Bayu juga aktif sebagai relawan dan mendampingi anak-anak yatim penghafal Al-Qur'an. Ia melihat bahwa mereka membutuhkan lebih dari sekadar bantuan materi pendidikan.
The Yatim Village sendiri berawal dari hunian sederhana bagi 11 anak yatim. Gagasan tersebut dicetuskan motivator muda Johan Saputra yang ingin menyediakan tempat tinggal bagi mereka.
Seiring waktu, tempat tersebut berkembang menjadi 13 rumah dalam satu kawasan. Jumlah anak yatim yang tinggal di sana kini mencapai sekitar 230 orang.
Di tengah lingkungan tersebut, Galafund mencoba menghadirkan pembelajaran keterampilan melalui Learning Expedition. Program percontohan selama tiga bulan itu berlangsung dengan pendampingan setiap pekan.
Di balik berbagai programnya, Galafund Indonesia juga tidak berjalan sendirian. Komunitas ini perlahan membangun jejaring dengan sesama komunitas hingga brand.
"Kayak kalau di Bogor ada Menebar Cahaya, ada Yayasan Al-Ihwan, terus juga Yatim Village tadi. Kita juga kerjasama sama brand-brand gitu, karena mungkin mereka juga punya dana CSR-nya atau brand juga perlu exposure sosial," ujarnya.
Bergerak bersama Galafund sejak awal, salah satu perubahan yang paling membekas yang Bayu lihat dari anak-anak yatim yang didampingi adalah dari segi kepercayaan diri. Mereka mulai berani berbicara, mencoba keterampilan baru, bahkan bercita-cita.
"Alhamdulillah setelah kita coba dampingin, anak-anak akhirnya punya cita-cita. Karena mereka udah mulai nyoba kali ya belajar soft skill atau ngerasain apa soft skill-nya mereka secara langsung setelah mentoring," kata lelaki berusia 25 tahun itu.
Pengalaman mendampingi anak-anak yatim tersebut juga membuat Bayu semakin memahami arti kehadiran. Ia berharap pendampingan seperti ini dapat terus dilanjutkan.
Menurutnya, anak-anak yatim tersebut membutuhkan sosok yang bisa menemani proses tumbuh mereka. Dengan pendampingan rutin, perkembangan dan kebutuhan masing-masing anak juga lebih mudah dipahami.
Bayu Belajar Menjaga Konsistensi dan Kepercayaan
Perjalanan membangun Galafund tentu tidak selalu berjalan sesuai harapan. Bayu menyebut konsistensi, kepercayaan, dan keberlanjutan sebagai tiga tantangan terbesar.
Bayu mengaku pernah merasa lelah dan mempertanyakan dampak kegiatan yang dijalankan. Namun, ia selalu berusaha mengingat alasan awal membangun Galafund.
Di balik setiap program, ada harapan anak-anak dan kepercayaan para donatur. Ada pula orang-orang yang ikut berjuang dan merasakan dampak dari kegiatan tersebut.
“Jangan cuma mengandalkan motivasi untuk bertahan. Miliki alasan yang lebih besar daripada rasa lelah itu sendiri,” ucapnya.
Perjalanan bersama Galafund perlahan mengubah cara Bayu memandang keberhasilan. Kini, ia tidak lagi hanya memikirkan bagaimana sebuah kegiatan bisa terlaksana.
"Sebagai founder yang dulu aku berpikir, gimana ya sebuah kegiatan itu bisa terlaksana. Tapi sekarang aku lebih banyak berpikirnya gimana sebuah kegiatan itu bisa kasih dampak yang berkelanjutan bagi orang," katanya.
Baginya, kegiatan sosial harus menghadirkan perubahan yang benar-benar dirasakan penerima manfaat. Dokumentasi dan jumlah kegiatan tidak cukup menjadi ukuran keberhasilan.
Dari anak-anak yatim yang didampinginya, Bayu juga belajar memahami kehidupan dengan lebih bijak. Ia menyadari setiap orang memiliki perjuangan yang belum tentu diketahui orang lain.
Pengalaman tersebut membuatnya tidak ingin memandang orang lain dari posisi yang lebih tinggi. Baginya, membantu berarti berjalan bersama, bukan merasa lebih beruntung.
“Ketika aku membantu orang lain, jangan pernah menempatkan diri seolah-olah kita lebih tinggi daripada mereka. Kita datang bukan untuk merasa lebih beruntung, tetapi untuk saling menguatkan,” katanya dengan teguh.
Pelajaran yang Diambil dari Sang Ibu
Di balik lika-liku perjalanan luar biasanya, Ibu tetap menjadi sosok paling berpengaruh dalam kehidupan Bayu. Ia menganggap perjuangan dan ketulusan sang ibu sebagai inspirasi yang terus menyertainya.
Bahkan, Bayu merasa pencapaian sebesar apa pun akan terasa kurang tanpa kehadiran ibunya. Ada satu nilai dari sang ibu yang terus ia pegang hingga sekarang.
“Kita gak selalu bisa memilih bagaimana kehidupan dimulai. Tetapi kita bisa memilih nilai yang akan kita bawa sepanjang perjalanan kita sendiri,” ujarnya.
Nilai tersebut pula yang ingin Bayu teruskan melalui kegiatan sosial. Ia berharap semakin banyak anak muda berani memulai kebaikan tanpa menunggu memiliki jabatan.
“Jangan nunggu untuk berbagi. Jangan nunggu terkenal dulu baru melakukan perubahan,” ucap Bayu berpesan.
Baginya, anak muda tidak seharusnya hanya sibuk mengejar karier dan kesuksesan pribadi. Mereka juga perlu memikirkan bagaimana keberhasilan tersebut bisa berarti bagi kehidupan orang lain.
Ke depan, Bayu berharap Galafund tetap hadir dan tumbuh bersama orang-orang yang terlibat. Ia ingin komunitas tersebut terus menjadi ruang berbagi dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Sementara untuk dirinya sendiri, Bayu punya pesan sederhana yang kerap terlupakan. Ia ingin terus berani bermimpi lebih besar tanpa mengabaikan waktu untuk beristirahat.
“Jangan lupa istirahat, Bayu. Juga jangan pernah takut lagi mencoba bermimpi lebih besar,” ujarnya.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.