Cakarnya membuka sarang lebah, sementara lidah panjangnya membantu menjangkau makanan di dalamnya. Kegemaran mencari madu membuat Helarctos malayanus dikenal sebagai beruang madu. Namun, makanannya jauh lebih beragam. Satwa ini juga menyantap larva lebah dan buah-buahan. Ketika buah ditelan, sebagian bijinya ikut masuk ke saluran pencernaan, lalu keluar bersama kotoran. Dari kebiasaan makan itulah beruang madu menjalankan peran penting sebagai penyebar biji, membantu tumbuhan berpindah dari pohon induknya ke tempat lain di hutan. Beruang madu merupakan spesies beruang terkecil di dunia. Panjang tubuhnya sekitar 1–1,4 meter, dengan tinggi punggung mencapai 70 sentimeter. Ukurannya tidak mengurangi kekuatannya: kuku panjang dan tajam membantu mencari makanan serta beraktivitas di pepohonan. Corak terang pada dada memberinya nama lain, beruang matahari atau sun bear. Di Indonesia, satwa ini hidup di Sumatera dan Kalimantan. Sebarannya juga mencakup sejumlah negara Asia lainnya. Kehidupannya berkaitan erat dengan hutan yang menyediakan makanan, tempat berlindung, dan pohon untuk beristirahat. Penelitian Khohirul Hidayah dan Fahma Wijayanti yang diterbitkan pada 2019 menelusuri keberadaannya di empat lokasi Taman Nasional Kerinci Seblat: Tandai-Talao, Gunung Tujuh, Ladeh Panjang, dan Pungut. Lokasi-lokasi tersebut memiliki kondisi berbeda, mulai dari hutan sekunder bertajuk relatif terbuka hingga hutan primer dengan gangguan lebih kecil. Berdasarkan tanda keberadaan yang ditemukan, indeks kelimpahan relatif tertinggi tercatat di Ladeh Panjang, sedangkan terendah di Gunung Tujuh. Hasil ini menggambarkan perbedaan temuan selama penelitian, bukan jumlah pasti beruang madu yang menghuni seluruh kawasan taman nasional. Pepohonan juga menjadi tempat beruang madu beristirahat. Satwa ini mengumpulkan dahan-dahan kecil untuk membuat tempat tidur di atas pohon, biasanya dekat…This article was originally published on Mongabay