RRI.CO.ID, Jakarta – Penggunaan rokok elektronik atau vape tidak menghilangkan risiko kesehatan maupun ketergantungan nikotin pada penggunanya. Kandungan zat adiktif dalam vape dan rokok konvensional dapat menyebabkan kecanduan sehingga berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat.
Wakil Ketua Umum Komisi Nasional (Komnas) Pengendalian Tembakau, Anissa Dian Harli Fasari, menyoroti anggapan mengenai keamanan vape. Menurutnya, kedua produk (vape dan rokok konvensional) tersebut sama-sama memiliki risiko kesehatan sehingga tidak diperlukan oleh tubuh manusia.
"Pada prinsipnya, rokok elektronik maupun rokok konvensional adalah sesuatu hal yang tidak dibutuhkan oleh tubuh kita. Rokok elektronik maupun rokok konvensional memiliki bahaya yang sama terhadap kesehatan," kata Anissa yang juga merupakan dokter spesialis paru dalam dialog Pro3 RRI, Senin, 2 November 2026.
Anissa menjelaskan, salah satu persoalan utama penggunaan kedua produk tersebut adalah kandungan nikotin yang bersifat adiktif. Kandungan ini dapat menyebabkan ketergantungan sehingga mengganti rokok konvensional dengan vape belum tentu mengatasi kecanduan.
"Jadi, zat adiktif nikotin ini sama-sama membuat seseorang itu menjadi candu. Sehingga apabila beralih ke rokok elektronik, maka tidak akan menyelesaikan candunya," katanya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena penggunaan vape juga ditemukan pada kelompok masyarakat yang sebelumnya bukan perokok. Anissa menyebut anak-anak sekolah termasuk kelompok yang pernah menggunakan rokok elektronik berdasarkan hasil survei.
Ia mengungkapkan, penggunaan rokok elektronik mengalami peningkatan cukup besar berdasarkan survei yang dilakukan pada periode 2019 hingga 2021. Dalam rentang tersebut, jumlah pengguna dilaporkan meningkat hingga sepuluh kali lipat.
"Peningkatan penggunaan tersebut memperkuat perhatian terhadap risiko ketergantungan nikotin, terutama ketika rokok elektronik semakin dikenal masyarakat. Perubahan jenis produk tidak menghilangkan persoalan utama apabila penggunanya tetap mengalami kecanduan," ujarnya.
Selain menyoroti dampak kesehatan, Anissa mengingatkan bahwa rokok elektronik dan konvensional merupakan produk yang sama-sama berpotensi menimbulkan ketergantungan. Karena itu, masyarakat tidak seharusnya menganggap penggunaan vape sebagai pilihan yang terbebas dari risiko.
"Karena ini hanya beda produk. Produk-produk ini tidak perlu dikonsumsi karena ini hanya akan menimbulkan candu," ucapnya.
Anissa juga mengingatkan pentingnya menjaga kualitas udara yang dihirup tanpa paparan asap rokok maupun uap vape. Menurutnya, kebutuhan dasar manusia adalah udara bersih, bukan zat tambahan yang berasal dari kedua produk tersebut.
Ia berharap pemahaman mengenai bahaya nikotin dapat mendorong masyarakat lebih berhati-hati dalam memilih produk yang dikonsumsi. Kesadaran tersebut dinilai penting untuk mencegah ketergantungan, terutama pada anak-anak dan generasi muda.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.