RRI.CO.ID, Jakarta - Industri kertas nasional masih mengimpor sekitar 40 persen kebutuhan kertas daur ulang (KDU) untuk memenuhi kebutuhan bahan baku. Dari total kebutuhan 7,06 juta ton, sebanyak 2,84 juta ton impor, sedangkan 4,22 juta ton dari pasokan dalam negeri.
Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mendorong perbaikan sistem pengumpulan kertas bekas di dalam negeri. Upaya tersebut mencakup integrasi data, pendataan pemasok, optimalisasi bank sampah, serta fasilitasi pertemuan bisnis untuk memperkuat rantai pasok industri.
“Kita perlu memperbaiki sistem pengumpulan kertas daur ulang di dalam negeri melalui integrasi data, pendataan pemasok, optimalisasi bank sampah, fasilitasi business matching. Langkah ini penting untuk memperkuat rantai pasok industri sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular,” ujar Sarmuji dalam sambutannya pada Pembukaan Kongres Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Tahun 2026 di Jakarta, Selasa, 3 November 2026.
Sarmuji menilai industri pulp dan kertas berperan menopang kinerja ekspor, memenuhi kebutuhan berbagai sektor industri, serta menyerap tenaga kerja. Karena itu, penguatan hilirisasi dan diversifikasi produk perlu terus didorong agar sumber daya nasional menghasilkan nilai tambah lebih besar.
Pada 2025, produksi pulp nasional mencapai 11,69 juta ton dari kapasitas terpasang 14,48 juta ton per tahun. Sementara itu, produksi kertas tercatat 18,65 juta ton dari kapasitas terpasang 25,37 juta ton per tahun.
Industri pulp dan kertas mencatatkan surplus neraca perdagangan sepanjang 2021–2025 dengan nilai ekspor mencapai USD8,2 miliar pada 2025. Pada semester I 2026, ekspor pulp tercatat USD1,68 miliar, sedangkan ekspor kertas mencapai USD2,35 miliar.
Sarmuji mengungkapkan, Indonesia menempati peringkat keempat sebagai eksportir pulp dunia pada 2025. Indonesia juga berada di peringkat ke-14 sebagai eksportir kertas dan karton dunia.
“Indonesia memiliki posisi yang cukup kuat dalam perdagangan pulp dan kertas dunia. Pada tahun 2025, Indonesia menempati peringkat keempat sebagai eksportir pulp serta peringkat ke-14 sebagai eksportir kertas dan karton dunia,” kata Sarmuji.
[bacajuga=1;title="Wamen Ekraf Irene Umar Dorong Eksplorasi Kertas sebagai Medium Kreatif";sumber="berita"]
Saat ini, industri pulp dan kertas nasional terdiri atas 113 perusahaan skala besar. Sektor tersebut menyerap sekitar 290 ribu tenaga kerja langsung serta 1,2 juta tenaga kerja tidak langsung.
Peluang hilirisasi industri terbuka melalui pengembangan berbagai produk turunan pulp dan kertas. Produk tersebut mencakup kertas tulis dan cetak, kertas kemasan, karton, kotak karton bergelombang (corrugated box), kantong kertas, label, hingga berbagai jenis tisu.
Pengembangan pulp larut (dissolving pulp) juga membuka peluang hilirisasi ke industri tekstil melalui produksi serat rayon atau viscose. Serat tersebut dapat diolah menjadi benang, kain, pakaian jadi, tekstil rumah tangga, hingga produk nonwoven untuk sektor kesehatan dan kebersihan.
“Industri pulp dan kertas tidak hanya menopang industri kemasan dan percetakan, tetapi juga menjadi bagian penting dari rantai pasok industri tekstil nasional. Ini merupakan peluang besar untuk memperkuat keterkaitan antarindustri sekaligus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri,” ucap Sarmuji.
Sarmuji juga menyoroti peningkatan kebutuhan global terhadap kemasan berbasis kertas, flexible packaging berbasis serat, serta produk berbahan baku terbarukan. Kondisi tersebut menjadi peluang bagi industri nasional untuk memperluas pasar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.