RRI.CO.ID, Teheran — Iran menyatakan kesediaannya membuka kembali Selat Hormuz dan melanjutkan perundingan diplomatik dengan Amerika Serikat (AS) dalam waktu dua hari. Tawaran tersebut bergantung pada kesediaan Washington memenuhi sejumlah tuntutan Teheran, di tengah meningkatnya ketegangan dan ancaman eskalasi militer.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan telah mempercepat pelaksanaan rencana tujuh tahap dari satu pekan menjadi dua hari. Menurut dia, percepatan tersebut sebagai bentuk iktikad baik memulihkan keamanan di Selat Hormuz dan memulai kembali proses negosiasi.
[bacajuga=1;title="Iran Siapkan Proposal Damai Dua Hari, AS Diminta Akhiri Blokade";sumber="berita"]
Melansir dari Xinhua, Selasa, 3 November 2026, Baghaei menegaskan pelaksanaan proposal tersebut bergantung pada keputusan Washington. Sementara itu, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan pemerintahannya berkomitmen menyelesaikan berbagai persoalan melalui dialog.
Pezeshkian juga mengatakan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, telah memberikan kewenangan untuk mengupayakan solusi diplomatik. Menurut dia, tidak ada pihak yang diuntungkan dari perang dan Iran tidak akan menyerah menghadapi tekanan.
[bacajuga=2;title="Qatar Kembali Mediasi untuk Dorong Kesepakatan Damai AS-Iran";sumber="berita"]
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan komunikasi yang dimediasi Qatar dan Pakistan berlangsung sangat intensif. Ini melibatkan pertemuan delegasi, percakapan telepon, dan pertukaran pesan secara rutin.
Araghchi menegaskan Iran tetap siap menempuh jalur diplomasi maupun mempertahankan diri. Namun, lanjut dia, eskalasi militer lebih lanjut dari Washington akan dibalas dengan respons yang jauh lebih keras.
[bacajuga=3;title="Wapres AS: Trump Tidak Akan Biarkan Perang Iran Berkepanjangan";sumber="berita"]
Di sisi lain, sikap pemerintah AS terhadap Iran menunjukkan sejumlah perbedaan. Teheran dilaporkan menerima surat dari Wakil Presiden AS J.D. Vance pada Kamis, 29 Oktober 2026 yang berisi ajakan melanjutkan perundingan perdamaian.
Iran menilai perubahan nada Washington dalam surat tersebut sebagai pertanda baik. Namun, Presiden Donald Trump kembali mengancam kemungkinan melanjutkan serangan militer terhadap Iran.
Meski demikian, Trump disebut lebih memilih memberikan kesempatan kepada proses negosiasi. Pada Senin, 2 November 2026, ia kembali menyatakan bahwa Iran ingin mencapai kesepakatan dengan Washington.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.