RRI.CO.ID, Jakarta - Pelatih Liverpool, Andoni Iraola, menyadari perjalanan timnya pada musim ini tidak akan selalu berjalan mulus. Meski demikian, ia optimistis The Reds mampu bangkit saat menghadapi Crystal Palace di Selhurst Park, Minggu, 8 November 2026 malam.
Pertandingan tersebut menjadi laga terakhir Liverpool sebelum memasuki jeda internasional November. Iraola pun menegaskan timnya membutuhkan kemenangan untuk mengakhiri tren negatif setelah menelan dua kekalahan beruntun.
"Menurut saya itulah tantangannya, terutama di klub seperti Liverpool, seminggu yang lalu kami sedang dalam tren positif. Kini setelah dua kekalahan situasinya berubah," kata Iraola dilaman Liverpool.
"Sekarang kami harus merespons setelah dua kekalahan tersebut. Kami membutuhkan kemenangan saat bertandang melawan Palace,".
Ia menegaskan, Liverpool harus segera memberikan respons positif demi mengembalikan kepercayaan diri tim. "Namun kita harus melihatnya dari perspektif yang lebih luas, kita tahu bahwa dalam sebuah proses akan selalu ada pasang surut," ujarnya.
[bacajuga=1;title="Andoni Iraola Soroti Tiga Gol Bola Mati yang Gagalkan Kemenangan Liverpool";sumber="berita"]
[bacajuga=2;title="Iraola Sesalkan Keputusan Penalti usai Liverpool Kalah";sumber="berita"]
"Kami tidak seburuk yang terlihat saat ini. Kami juga tidak sehebat yang terlihat seminggu yang lalu," katanya.
Lebih lanjut, Iraola mengakui masih ada sejumlah aspek permainan Liverpool yang perlu dibenahi. Salah satu perhatian utamanya adalah kemampuan tim dalam mengantisipasi situasi bola mati setelah kebobolan beberapa gol melalui skema tersebut.
"Tetapi secara keseluruhan, kita masih menunjukkan performa yang baik," ucap Iraola. Disisi lain, ia menilai permainan Crystal Palace di bawah asuhan Pierre Sage yang menggantikan Oliver Glasner sangat berkembang.
"Meskipun mereka berganti manajer, para pemain sudah sangat memahami apa yang ingin mereka terapkan di lapangan," ujarnya. Ia menyoroti kualitas lini tengah Palace yang diperkuat pemain seperti Adam Wharton, Daichi Kamada, Yeremy Pino, dan Quinten Timber.
"Semuanya piawai dalam menguasai bola, dan ukuran lapangan mereka tidak terlalu besar. Sehingga tekanan bisa datang dengan cepat," katanya.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.