RRI.CO.ID, Jakarta - Hari Ubur-Ubur Sedunia diperingati setiap 3 November untuk mengenalkan satwa laut dan perannya dalam ekosistem. Ubur-ubur menjadi makanan predator, termasuk penyu belimbing, sekaligus tempat berlindung bagi ikan kecil.
[bacajuga=1;title="Bukan Mitos, Ubur-ubur Ini Mampu 'Mengulang' Siklus Hidupnya";sumber="berita"]
Sengatan ubur-ubur dapat menimbulkan nyeri hingga reaksi serius, bergantung pada jenisnya. Karena itu, masyarakat perlu mengetahui langkah pertolongan pertama untuk mengurangi risiko komplikasi.
Melansir laman Hello Sehat, ubur-ubur memiliki sel penyengat bernama nematosit yang terdapat pada tentakelnya. Sel tersebut dapat melepaskan racun ketika bersentuhan dengan kulit manusia.
Gejala sengatan dapat berbeda tergantung jenis ubur-ubur yang menyebabkannya. Korban umumnya mengalami kulit gatal, sensasi terbakar, nyeri berdenyut, hingga munculnya lepuhan.
Langkah pertama, segera keluar dari air untuk menghindari sengatan tambahan dari tentakel ubur-ubur. Hindari menyentuh ubur-ubur yang terdampar karena tentakelnya masih berpotensi menyebabkan sengatan.
Area kulit yang terkena sengatan perlu diberikan larutan cuka. Gunakan cuka masak atau asam asetat 25 persen yang diencerkan hingga konsentrasinya mencapai lima persen.
Larutan cuka tersebut kemudian dibalurkan pada bagian tubuh yang terkena sengatan. Diamkan selama 30 detik untuk membantu menonaktifkan sel penyengat yang masih menempel.
Apabila terdapat tentakel tersisa pada kulit, segera lepaskan menggunakan alat bantu yang aman. Gunakan pinset, sarung tangan, atau plastik untuk menghindari kontak langsung dengan tentakel tersebut.
Setelah tentakel dibersihkan, bagian tubuh yang terkena sengatan perlu direndam menggunakan air hangat. Gunakan air bersuhu 42 hingga 45 derajat Celsius selama 20 hingga 40 menit.
Pertolongan pertama juga perlu disertai pemantauan terhadap kondisi korban setelah mengalami sengatan. Gejala seperti kesulitan bernapas, pusing, dan ruam menyebar dapat menandakan reaksi alergi serius.
Jika gejalanya meliputi mual, muntah, kejang otot, hingga penurunan kesadaran, segera hubungi layanan darurat. Kondisi tersebut membutuhkan penanganan medis segera karena berpotensi mengancam keselamatan korban.
Masyarakat juga perlu menghindari penggunaan air seni untuk mengatasi luka akibat sengatan ubur-ubur. Cara tersebut merupakan mitos dan justru berisiko memicu pelepasan racun tambahan dari tentakel.
Ubur-ubur dapat ditemukan di perairan dangkal, teluk, selat, dan kawasan pesisir. Kemunculannya dipengaruhi suhu air serta arus laut sehingga masyarakat perlu mewaspadai keberadaannya. (Shafa)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.