RRI.CO.ID, Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih berlanjut memasuki bulan November 2026. Mengacu data Bloomberg, rupiah turun 0,15 persen menjadi Rp18.174 per dolar AS dalam pembukaan perdagangan hari ini.
Pada akhir pekan kemarin, rupiah ditutup pada posisi Rp18.147 per dolar AS, turun 0,06 persen atau 10 poin. Pergerakan nilai tukar rupiah akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor domestik yang mempengaruhi sentimen pasar.
"Rupiah diperkirakan bergerak datar. Para investor menantikan serentetan data ekonomi domestik siang ini," kata Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, Senin, 2 November 2026.
[bacajuga=1;title="IHSG Diperkirakan Masih Melemah Hari Ini, Pasar Cermati Sentimen Domestik";sumber="berita"]
[bacajuga=2;title="Penutupan Perdagangan Akhir Pekan, Rupiah Berbalik Melemah";sumber="berita"]
Hari ini, Badan Pusat Statistik akan merilis data inflasi dan data perdagangan luar negeri Indonesia. Sejumlah data lainnya yang akan dirilis adalah data indeks manufaktur (PMI) dan data pertumbuhan ekonomi triwulan III 2026.
Sementara itu, kata Lukman, harga minyak mentah dunia kembali turun oleh harapan perundingan damai antara AS-Iran. "Penurunan harga minyak dapat mendorong penguatan mata uang rupiah," ucapnya.
Meski demikian, lanjutnya, masih ada sentimen domestik umumnya masih lemah, yang menjadi faktor penekan rupiah. Diantaranya aksi jual saham investor asing di pasar ekuitas atau pasar saham.
Terkait hal itu, ia memperkirakan, rupiah hari ini diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp18.100-18.200 per dolar AS. Sedangkan indeks dolar AS diperkirakan akan bergerak di kisaran level 101,91–102, menguat tipis hingga 0,04 persen.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.