RRI.CO.ID, Jakarta - Jepang memperingati Hari Kebudayaan atau Bunka no Hi setiap 3 November. Salah satu budaya sehari-hari yang menarik dikenal adalah ekiben, bekal khas perjalanan kereta.

Ekiben merupakan makanan dalam kotak yang dijual di stasiun maupun kereta. Mengutip laman Web Japan, istilah ini berasal dari kata eki yang berarti stasiun dan bento atau bekal makanan.

Ekiben bukan sekadar makanan untuk mengisi perut selama perjalanan. Setiap daerah memiliki ekiben dengan bahan dan menu yang mencerminkan kekayaan kuliner setempat.

Sejarah ekiben diperkirakan bermula pada 1885 di Stasiun Utsunomiya. Menurut Plenus Kome Academy, bekal pertama terdiri dari dua nasi kepal atau onigiri dan acar lobak.

Makanan tersebut dibungkus daun bambu agar mudah dibawa penumpang. Namun, sejumlah sumber menyebutkan sejarah awal ekiben memiliki versi berbeda.

[bacajuga=1;title="Mengenal Festival Danjiri Jepang, Tradisi Meriah Berusia 300 Tahun";sumber="berita"]

Seiring waktu, berbagai stasiun mulai menjual bekal berbahan makanan khas daerah masing-masing. Tradisi ini memungkinkan penumpang mengenal cita rasa lokal selama perjalanan.

Salah satu contohnya adalah ikameshi dari Stasiun Mori, Hokkaido. Mengutip Japan Rail Club, makanan ini mulai dijual pada tahun 1941 menggunakan cumi-cumi yang diisi nasi.

Adapun masu no sushi dari Toyama yang menggunakan ikan trout dan nasi. Hidangan tersebut dibungkus daun bambu dan disajikan dalam bentuk sushi tekan.

Sementara itu, toge no kamameshi dari Gunma disajikan dalam pot keramik kecil. Menurut Japan Rail Club, makanan ini mulai dijual oleh Oginoya pada tahun 1958.

Beberapa ekiben juga memiliki kemasan yang dibuat menyerupai benda khas daerah. Salah satunya hipparidako meshi dari Hyogo yang menggunakan wadah menyerupai perangkap gurita.

Popularitas ekiben kemudian meluas hingga ke pusat perbelanjaan. Web Japan mencatat, festival ekiben di pusat perbelanjaan menjadi salah satu cara memperkenalkan makanan tersebut kepada masyarakat.

Salah satu festival yang terkenal diselenggarakan Keio Department Store di Tokyo. Acara tersebut menghadirkan berbagai ekiben dari banyak daerah di Jepang.

[bacajuga=2;title="Mengenal Sejarah dan Keunikan Kesenian 'Kabuki' dari Jepang";sumber="berita"]

Ekiben juga terus berkembang melalui berbagai inovasi. Ada kotak makanan yang dapat menghangatkan isinya sendiri menggunakan reaksi antara air dan bahan pemanas.

Kemasan ekiben pun semakin beragam, mulai dari plastik hingga keramik. Beberapa penjual bahkan menghadirkan kotak bertema karakter populer untuk menarik perhatian pembeli dan kolektor.

Meski memiliki sejarah panjang, penjualan ekiben menghadapi sejumlah tantangan. Restaurants Guide Tokyo menyebut jumlah pembuat ekiben menurun sejak mencapai puncaknya pada tahun 1956.

Persaingan dengan pilihan makanan lain dan perubahan kebiasaan perjalanan turut memengaruhi keberadaannya. Meski begitu, ekiben tetap menjadi bagian menarik dari pengalaman bepergian menggunakan kereta di Jepang. (Rahmania Ulfah)