RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Mengacu data Bloomberg, rupiah ditutup turun tipis 0,04 persen atau 8 poin ke posisi Rp18.168 per dolar AS.

Partai Demokrat memenangkan Pemilu Sela di AS dengan perolehan suara di atas ambang batas 51 kursi di Senat AS. "Pasar terus memantau perkembangannya berkaitan dengan upaya mengakhiri konflik antara AS-Israel dan Iran," kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Rabu, 4 November 2026.

Sementara itu, Qatar meningkatkan upaya mediasi guna mencegah eskalasi serangan setelah pemilihan paruh waktu AS. Di sisi lain, pada Reuters seorang pejabat senior Iran mengatakan, Iran dan AS masih jauh dari kesepakatan untuk mengakhiri konflik.

[bacajuga=1;title="Menkeu Pastikan Tidak Ada Penerapan Pajak Baru untuk Transaksi Digital";sumber="berita"]

[bacajuga=2;title="OJK Imbau Masyarakat Tetap Tenang terkait Kendala Transaksi di MNC Bank";sumber="berita"]l

Dari sisi ekonomi, data ketenagakerjaan AS menguat dari perkiraan sehingga mendorong penguatan indeks dolar AS. Laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) menunjukkan kenaikan menjadi 7,5 juta pada bulan September.

"Angka itu meningkat dari 7,19 juta pada bulan sebelumnya, dan melampaui perkiraan pasar sebesar 7,13 juta," ucap Ibrahim. Sementara itu di dalam negeri, pelaku pasar menunggu data pertumbuhan ekonomi triwulan III 2026.

Data tersebut akan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS), Kamis, 5 November 2026. "Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan kembali melambat dibandingkan periode sebelumnya," ucap Ibrahim.

Pelambatan dipengaruhi oleh tingginya suku bunga yang masih membebani biaya pinjaman. Pada saat yang sama terjadi tekanan harga kebutuhan pokok yang menyebabkan melemahnya daya beli masyarakat.

Akibatnya, konsumsi rumah tangga dan aktivitas dunia usaha berpotensi mengalami pelambatan. Pernyataan Menteri Keuangan, Suahasi Nazara tentang pelambatan ekonomi Indonesia juga menjadi perhatian pasar.

Menurut Suahasil, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 diperkirakan hanya di kisaran 5,4 persen–5,5 persen. Pertumbuhannya lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar 5,6 persen–6,0 persen.

"Penurunan proyeksi ini mencerminkan adanya tantangan dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut berpotensi membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk saham dan rupiah," ujar Ibrahim.

Selanjutnya, tambah Ibrahim, pasar akan mencermati apakah perlambatan ekonomi hanya bersifat sementara. Pasar juga akan melihat dampaknya ke daya beli, konsumsi masyarakat dan investasi.

"Jika pertumbuhan terus melambat, tekanan terhadap sentimen pasar dan kepercayaan investor dapat meningkat," kata Ibrahim. Di sisi lain, ketegangan politik meningkat setelah tiga perwira tinggi Polri ditetapkan sebagai tersangka penyadapan ilegal.

"Perkembangan kasus ini berpotensi meningkatkan ketidakpastian politik dan membuat investor lebih berhati-hati. Jika persoalan ini berkembang dan mengganggu kepercayaan terhadap pemerintahan, risiko keluarnya dana asing dari Indonesia akan meningkat.