RRI.CO.ID, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mempertanyakan kesiapan implementasi bahan campuran bioetanol E20 hingga E50. Hal itu disampaikan Menteri Energi, Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, usai mengikuti rapat terbatas (ratas) bersama Kepala Negara.
Dalam ratas dengan agenda pembahasan ekonomi dan energi dalam negeri, Presiden Prabowo diungkapkannya, menyoroti hal tersebut. Pada kesempatan itu Bahlil yang juga sebagai Menteri Koordinator (Menko) Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi mengatakan, telah mempersiapkannya.
Ia mengatakan bahwa persiapan implementasi E20 hingga E50, telah disusunnya kedalam bentuk rencana strategis (Renstra). Melalui Renstra tersebut, implementasi E20 hingga E50 diyakini Bahlil, dapat mewujudkan ketahanan energi nasional.
"Bapak Presiden menanyakan kesiapan tentang implementasi daripada E20, dalam rangka mendorong ketahanan energi kita. E20 sampai E50 dan kami sudah menyiapkan Renstra," kata Bahlil kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, 3 November 2026.
Lebih lanjut dijelaskannya, bahwa pelaksanaan Renstra E20 hingga E50 ini, akan melibatkan lintas kementerian. Dalam hal ini Menko Hilirisasi dan Transisi Energi itu menuturkan, implementasi E20 hingga E50 akan melibatkan Kementerian Pertanian (Kementan).
"(Koordinasinya) Saya dengan Pak Mentan (Andi Amran Sulaiman). Karena hulunya itu adalah kolaborasi antara Pak Mentan dengan ESDM," ujarnya.
Perlu diketahui, E20 merupakan bahan bakar bensin dengan campuran 20 persen etanol. Sementara untuk E50, menggunakan campuran etanol sebesar 50 persen.
Dalam pengembangan bioetanol dari 20 persen menjadi 50 persen tersebut, memerlukan pasokan bahan baku hasil pertanian. Sehingga untuk mewujudkan ketahanan energi bahan bakar minyak (BBM) ini, memerlukan kolaborasi bersama dengan pihak pertanian.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.