Tempe tidak selalu harus dibuat dari kedelai. Bagi Agustinus Priyanto, biji koro pedang juga membuka peluang untuk mengolah pangan sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan impor. Pegiat pangan lokal yang akrab disapa Agus ini memperkenalkan tempe koro pedang kepada petani di Majalengka ketika mendampingi Lembaga Masyarakat Desa Hutan pada 2010. Selama empat tahun, dia mengembangkan dan mengenalkan produk tersebut. Pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanannya mengolah tempe, yang kemudian berkembang menjadi kelas-kelas pembuatan tempe organik dan pendampingan perajin. Ketertarikan Agus pada pertanian organik bermula ketika menjadi pendamping korban konflik Aceh pada 2008. Pengalaman tersebut mendorongnya memikirkan hubungan antarmakhluk hidup dan cara manusia memproduksi pangan. Saat bekerja bersama petani di Majalengka, dia melihat peluang dari keragaman biji-bijian lokal. “Kita kaya akan biji-bijian, bisa tidak tergantung dari kedelai,” katanya. Bagi Agus, memperluas bahan baku tempe merupakan cara mengangkat tanaman setempat. Dia juga mengembangkan tempe kedelai lokal sebagai bagian dari upayanya mendukung penggunaan hasil pertanian dalam negeri. Pengetahuan itu dibagikannya melalui kelas yang kebanyakan berlangsung secara daring. Peserta belajar teori dan praktik pembuatan tempe, mengenali bahan baku, hingga membuat ragi. Pada tingkat lanjutan, Agus memperkenalkan variasi tempe dengan kunyit, kencur, kayumanis, kelor, stevia, dan spirulina. Ada pula kelas pengolahan tempe dari beragam kacang-kacangan. Pesertanya datang dari berbagai kalangan, termasuk luar negeri. “Sekarang kita sudah era global. Tempe itu sudah mendunia,” ujarnya. Dia ingin keterampilan membuat pangan yang lekat dengan kehidupan Indonesia ini tetap dikenal dan diwariskan oleh masyarakatnya sendiri. Di Gunungkidul, Agus mendampingi perajin tempe Playen, kawasan yang menurutnya dahulu dikenal sebagai penghasil tempe…This article was originally published on Mongabay
Nasional
Bukan Skala Nasional, Agus Bikin Tempe Mendunia
Tempe tidak selalu harus dibuat dari kedelai. Bagi Agustinus Priyanto, biji koro pedang juga membuka peluang untuk mengolah pangan sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan impor. Pegiat pangan lokal yang akrab disapa Agus ini memperke
Disarikan dari Mongabay Indonesia Baca laporan asli di sumbernya untuk konteks lengkap.
Buka sumber
Sumber
Kunjungi mongabay.co.id
Sumber Berita Mongabay Indonesia
Kami menyajikan ringkasan dan konteks tambahan. Kunjungi situs asli untuk membaca laporan secara utuh di tab baru.
Ruang diskusi
Komentar 0
Diskusi terbuka untuk anggota. Jaga kesopanan, hindari ujaran kebencian, dan sertakan konteks.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.