RRI.CO.ID, Baku - Di tengah dunia yang kian diwarnai konflik dan perpecahan, tragedi kemanusiaan yang menimpa rakyat Palestina di bawah sasaran pemusnahan massal telah membuka mata masyarakat global. Peristiwa kelam tersebut menegaskan bahwa isu Palestina bukan sekadar persoalan geopolitik regional, melainkan ujian nurani bagi seluruh umat manusia di berbagai belahan bumi.
Fenomena solidaritas global yang masif mulai dari gelombang protes hingga aksi demonstrasi di berbagai negara membuktikan satu hal mendasar. Bahwa, manusia memiliki kepekaan rasa yang sama terhadap ketidakadilan.
"Kita memiliki perasaan yang sama, merasakan kepedihan yang sama. Dan, oleh karena itu hal-hal inilah yang menginspirasi manusia dan membuat orang-orang bersolidaritas," kata Profesor Filsafat di Universitas Mohammed V Rabat, Mohamed El Masudi dalam Forum Dunia tentangan Dialog Antarbudaya ke-7, Selasa, 27 Oktober 2026, di Heydar Aliyev Center, Baku, Azerbaijan.
[bacajuga=1;title="Azerbaijan Sebut Forum Dunia tentang Dialog Antarbudaya Miliki Peran Penting";sumber="berita"]
Menurut El Masudi, gelombang dukungan lintas batas ini membuktikan nilai-nilai universal seperti kebenaran, keadilan, dan kebebasan. Yakni, bersifat mutlak dan melintasi sekat-sekat perbedaan.
“Betapapun beragamnya bahasa, budaya, dan latar belakang masyarakat dunia, setiap individu pada dasarnya memiliki kerinduan yang seragam. Yakni, hidup merdeka, memperoleh hak-hak yang setara, dan bernaung di bawah sistem yang adil,” ucapnya menekankan.
Ia turut menyoroti bagaimana narasi yang disuarakan rakyat Palestina tidak pernah menyasar kelompok, suku, atau ras tertentu, melainkan memanggil esensi kemanusiaan itu sendiri. Solidaritas yang lahir dari masyarakat dunia menunjukkan manusia di penjuru manapun, mulai memandang sesamanya sebagai bagian dari satu keluarga global, bukan lagi sekadar anggota suku atau bangsa yang terkotak-kotak.
Di tengah sistem global saat ini yang masih kerap diwarnai ketimpangan antara pihak yang kuat dan lemah. El Masudi mengingatkan pentingnya kembali kepada nilai-nilai kemanusiaan bersama.
Dunia, menurutnya, harus keluar dari cengkeraman hegemoni, tirani, dan konflik sekunder yang saling menghancurkan. Hal ini dilakukan demi membangun sebuah peradaban baru yang menempatkan manusia sebagai nilai tertinggi yang wajib dihormati.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.