RRI.CO.ID, Jakarta - Kebiasaan membayangkan berbagai kemungkinan buruk kerap dialami seseorang ketika sedang melamun. Kondisi tersebut dapat membuat pikiran terasa lelah meskipun kenyataannya belum tentu seburuk bayangan.

Psikolog Naomi Ernawati Lestari menjelaskan, memikirkan kemungkinan terburuk merupakan hal yang umum terjadi. Kebiasaan tersebut menjadi bagian dari mekanisme pertahanan alami manusia.

"Ini terjadi karena otak kita dirancang untuk menjaga kita tetap aman dengan memprediksi potensi bahaya di sekitar. Meskipun memikirkan skenario terburuk adalah normal, jika terlalu sering atau menyebabkan stres berlebihan ada
baiknya untuk mengelola kecemasan," ujarnya dikutip RRI dari kanal YouTube/@Halodoc, Sabtu, 31 Oktober 2026.

Erni menyarankan beberapa cara untuk membantu seseorang mengelola kecemasan akibat pikiran berlebihan. Ia menyebut Meditasi, konseling, dan teknik relaksasi dapat menjadi pilihan untuk mengatasinya.

Ia juga menjelaskan bahwa kebiasaan overthinking tidak selalu menunjukkan seseorang mengalami gangguan kecemasan. Kondisi tersebut, lanjutnya, bisa muncul akibat stres, kebiasaan berpikir, maupun situasi tertentu.

"Gangguan overthinking bisa terjadi karena stres kebiasaan berpikir atau situasi tertentu tanpa adanya gangguan kecemasan klinis. Jika overthinking terasa mengganggu atau menimbulkan stres yang berkelanjutan berbicara dengan seorang profesional seperti terapis atau psikolog," katanya.

Sementara itu, Erni juga menyarankan seseorang mengenali pemicu munculnya pikiran negatif. Menurutnya, menuliskan berbagai pikiran dalam jurnal dapat membantu memahami pola yang terjadi.

Selain mengenali pemicu, Erni mengatakan, seseorang juga dapat mencoba mengubah sudut pandang terhadap suatu permasalahan. Cara tersebut menurutnya, dapat membantu melihat situasi melalui perspektif yang berbeda.

Dirinya turut menyarankan agar seseorang menerima perasaan yang muncul tanpa terus-menerus menekannya. Emosi yang dirasakan sebaiknya diproses agar seseorang dapat memahami kondisinya.

Menurut Erni, Kebiasaan memaafkan diri sendiri dan orang lain juga menjadi salah satu langkah berdamai dengan pengalaman masa lalu. Proses tersebut dapat membantu seseorang menghadapi perasaan menyakitkan yang masih membekas.

"Memaafkan dan berdamai dengan masa lalu lalu memahami bahwa tidak semua orang sama. Pelan-pelan dalam hubungan yang baru mulai mengenali perasaan dan kekhawatiran kamu, cari dukungan dengan orang yang bisa kamu percaya," katanya.

(Reporter: Muhammad Herdi Fabryansyah)