RRI.CO.ID, Jakarta - Kebiasaan mengakses media sosial secara berlebihan dapat meningkatkan stres dan mengganggu kesehatan mental. Paparan informasi tanpa batas, perbandingan sosial, serta kecemasan tertinggal informasi dapat memicu tekanan psikologis.

Dilansir dari laman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Rabu, 4 November 2026, paparan berita berlebihan dapat meningkatkan stres. WHO mengingatkan masyarakat untuk membatasi konsumsi berita melalui televisi maupun media sosial.

Salah satu pemicu tekanan psikologis berasal dari kebiasaan membandingkan kehidupan pribadi dengan unggahan orang lain. Pengguna dapat merasa kurang percaya diri ketika melihat pencapaian, penampilan, atau kehidupan orang lain.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga menjelaskan bahwa media sosial dapat mendorong seseorang terus memeriksa notifikasi. Kebiasaan tersebut berpotensi mengganggu konsentrasi ketika seseorang belajar, bekerja, maupun menjalankan aktivitas sehari-hari.

[bacajuga=1;title="Benarkah Stres Berkepanjangan Dapat Memicu Kanker? Ini Penjelasannya";sumber="berita"]

Penggunaan media sosial secara berlebihan juga dapat membuat seseorang kesulitan mengendalikan waktu. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan ketergantungan terhadap perangkat digital dan aktivitas daring.

Selain itu, paparan komentar negatif dan perundungan siber dapat menambah tekanan emosional pengguna. Pengalaman tersebut dapat memengaruhi rasa aman seseorang ketika berinteraksi di ruang digital.

WHO menjelaskan stres dapat memengaruhi kondisi fisik maupun mental seseorang. Gejalanya meliputi kecemasan, mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, sakit kepala, hingga gangguan tidur.

Paparan informasi yang terus-menerus juga dapat membuat seseorang kesulitan memilah informasi. Karena itu, pengguna perlu mengatur konsumsi konten agar tidak membebani kondisi psikologis.

[bacajuga=2;title="Stres dan Pola Makan ternyata Bisa Memengaruhi Kesehatan Rambut";sumber="berita"]

Selain memicu stres, penggunaan media sosial berlebihan juga berisiko mengganggu kesehatan jiwa. Berdasarkan laman Kemenkes, kebiasaan tersebut dapat memicu kecemasan, depresi, kesepian, dan fear of missing out (FOMO).

Untuk mengurangi risiko tersebut, WHO menyarankan masyarakat membatasi waktu mengikuti berita melalui media sosial. Masyarakat juga dapat menjaga rutinitas, tidur cukup, berolahraga, dan menjalin hubungan dengan orang tepercaya.

Kemenkes juga menyarankan pengguna mengurangi waktu bermedia sosial dan mematikan notifikasi. Masyarakat juga dapat memperbanyak kegiatan luring bersama keluarga, teman, maupun komunitas.

Pengguna juga perlu memilih konten yang memberikan informasi dan manfaat positif. Membatasi akun pemicu kecemasan dapat membantu menciptakan pengalaman bermedia sosial yang lebih sehat. (Reporter: Davina Keisha Salsabila)