RRI.CO.ID, Sukoharjo - Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mendorong Batik Keris dan pelaku UMKM memanfaatkan jaringan 46 perwakilan perdagangan Indonesia di 33 negara. Jaringan tersebut dapat dimanfaatkan untuk menggali informasi pasar dan menjajaki peluang pertemuan dengan pembeli potensial melalui business matching.

Roro menjelaskan, pelaku UMKM dapat berkomunikasi dengan perwakilan perdagangan untuk memperoleh informasi mengenai peluang pasar internasional. Langkah tersebut diharapkan membantu pelaku usaha memperluas jangkauan pemasaran produk mereka.

Dalam kunjungan ke pabrik Batik Keris di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Roro meninjau proses produksi dan penyerapan tenaga kerja lokal. Kunjungan tersebut juga bertujuan memetakan potensi perluasan pasar ekspor bagi produk busana berbasis budaya Indonesia.

“Kunjungan ini dimaksudkan untuk meninjau secara langsung proses produksi batik dan dampak penyerapan tenaga kerja lokal (multiplier effect). Selain itu, sebagai upaya memetakan potensi perluasan pasar ekspor bagi produk busana berbasis budaya Indonesia,” ujar Roro dalam keterangannya di Sukoharjo, Jumat, 6 November 2026.

Roro mengapresiasi Batik Keris yang membangun jaringan ritel nasional melalui pusat perbelanjaan dan berbagai bandara. Perusahaan tersebut juga konsisten menjalankan program kaderisasi pembatik lintas generasi.

Roro menegaskan, Kementerian Perdagangan berkomitmen mendorong produk unggulan dalam negeri, termasuk batik, memasuki pasar internasional. Dukungan pemerintah mencakup pembinaan, promosi periklanan, dan penyelenggaraan peragaan busana (fashion show) untuk memperkenalkan produk batik ke mancanegara.

“Pemerintah hadir sebagai fasilitator. Kami melihat bagaimana bisnis yang berawal dari kesederhanaan dapat berkembang menjadi skala besar,” kata Roro.

[bacajuga=1;title="Tieka Huza Hadirkan Batik melalui Desain Kontemporer";sumber="berita"]

Chief Executive Officer (CEO) Batik Keris Andy Rusli menyatakan, kunjungan Wamendag Roro memberikan inspirasi dan semangat bagi perusahaan. Andy berharap batik dapat terus berjaya dan pemerintah dapat memberikan pasar yang lebih besar.

“Kami berminat untuk berpartisipasi dalam Trade Expo Indonesia mendatang guna menarik buyer. Untuk saat ini, Batik Keris masih berfokus pada pemenuhan kebutuhan dalam negeri paralel dengan pembinaan perajin batik baru,” ujar Andy.

Batik Keris berdiri sejak 1947 dan mengintegrasikan produksi, pengembangan, serta distribusi busana dan tekstil batik tradisional. Kegiatan produksinya didukung 435 tenaga kerja profesional dan 311 unit mesin produksi terpasang.

Kapasitas produksi Batik Keris mencapai 60 ribu potong per bulan. Produk yang dihasilkan meliputi kemeja pria, blus, rok, pakaian luar, dan busana anak.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor batik Indonesia pada 2025 mencapai 30,62 juta dolar Amerika Serikat. Nilai tersebut tumbuh 13,03 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 26,63 juta dolar Amerika Serikat.