.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)
KARHUTLA tahun 2026 ini luar biasa. Tercatat yang terluas sepanjang sejarah, sekaligus juga menghanguskan terbanyak Taman Nasional (TN), termasuk dua TN besar di Papua. Kebakaran di TN Lorentz saja melahap 6.532 hektare, kedua terbesar setelah TN Wasur seluas 8.708 hektare. Kawasan yang terdampak mencakup wilayah Papua Tengah dan Papua Pegunungan.
TN Tanjung Puting dan Way Kambas sebelumnya tidak pernah terbakar. Dan kebakaran di TN Tengger- Bromo-Semeru (TNBTS) menjadi yang paling mematikan karena merenggut nyawa enam orang relawan. Luas lahan yang terbakar di sini mencapai 3.531 hektare, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Indonesia punya 57 taman nasional, meliputi kawasan hutan dengan fungsi lindung, dan hutan produksi, serta konservasi. Tapi jumlah aparat atau polisi hutannya tidak banyak. Gap antara jumlah pengawas dengan luas wilayah yang harus diawasi tak seimbang. Harusnya gap ini bisa dijawab dengan teknologi seperti di Brasil, sedangkan kita belum.
Merujuk catatan Walhi Nasional, disebutkan karhutla di taman nasional Indonesia sepanjang 2026 adalah yang terbesar. Salah satu kelemahan kurangnya peran masyarakat di sekitar kawasan TN. Padahal peran masyarakat bisa menjadi ujung tombak dalam melindungi hutan. Di bawah penjagaan warga setempat apakah wilayah adat atau wilayah kelola, taman nasionalnya akan terjaga. Tetapi keberadaan mereka tidak diakui. Ada Satgas Inovasi Pembiayaan dan Pengelolaan TN yang dibentuk Presiden Prabowo, dan diketuai Hashim Djojohadikusumo. Satgas ini gagal ditandai menjaga wilayah taman nasional ditandai begitu masifnya kebakaran. Justru setelah adanya Satgas, banyak taman nasional yang terbakar.
Walhi (Wahana Lingkungan Hidup) juga mendesak kepolisian turut menyelidiki insiden kebakaran di taman nasional, tidak hanya di kawasan konsesi. UU Kehutanan dan UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menyatakan, ketika terjadi peristiwa kebakaran di wilayah konsesi maupun hutan di bawah kendali negara—maka melekat tanggung jawab bagi pemilik konsesi atau kementerian yang berwenang.
Upaya Cerdas Brasil
Brasil menggunakan sistem berbasis teknologi satelit yang dikelola oleh lembaga penelitian luar angkasa nasional. Brasil menerapkan Program Queimadas (INPE): Dikelola oleh Instituto Nacional de Pesquisas Espaciais (INPE) atau Institut Nasional untuk Penelitian Luar Angkasa Brasil. Program ini memantau titik api (hotspots) secara real-time menggunakan berbagai sensor satelit cuaca dan lingkungan (seperti satelit milik NOAA, NASA, dan satelit nasional Brasil). Berikutnya ada Sistem Deteksi Deforestasi secara Real-Time menghasilkan peringatan harian terkait perubahan tutupan hutan, degradasi, dan bekas kebakaran. Data ini langsung dikirim ke lembaga penegak hukum dan lingkungan untuk tindakan cepat di lapangan.
Pemantauan tahunan yang mengukur tingkat deforestasi dan pembukaan lahan secara presisi dipantau melalui citra satelit beresolusi tinggi (Landsat, Sentinel, CBERS) untuk kebijakan jangka panjang. Berbagai portal web yang diintegrasikan dengan data kebakaran agar dapat diakses, dianalisis, dan diunduh oleh publik maupun lembaga terkait secara transparan. Seiring dengannya dilakukan investigasi dan penegakan hokum terhadap unsur kesengajaan atau pembakaran liar yang sering kali mengancam wilayah penting seperti Amazon dan Cerrado.
Sebenarnya kebakaran hutan juga makin meningkat di Brasil. Tahun 2024 mencatat rekor 237 ribu kebakaran yang menghancurkan lebih dari 30 juta hektar vegetasi—sebagian besar di Amazon, memicu darurat lingkungan nasional. Hutan hujan Amazon yang terkenal itu menanggung dampak terberat, menyumbang 58 persen dari total area yang terbakar. Selama musim kebakaran 2025 Brasil menetapkan keadaan darurat lingkungan nasional. Peningkatan suhu global dan pergeseran pola iklim diperkirakan akan memperparah kekeringan, menciptakan kerawanan di seluruh Amazon, Pantanal, dan Hutan Atlantik. Siklus iklim El Nino dan La Nina diperkirakan akan lebih sering dan parah. Tanpa pengurangan deforestasi dan emisi karbon yang signifikan, sebagian wilayah Amazon kemungkinan akan berubah menjadi ekosistem sabana.
Ada Insentif Pajak
Mirip di Indonesia, kebakaran hutan di Brasil sebagian besar disebabkan oleh tingkah manusia. Alasan utamanya, menurut Mongabay, meliputi deforestasi, degradasi, perampasan lahan, dan pembukaan lahan untuk pertanian dan peternakan, yang semuanya melibatkan penggunaan api secara sengaja. Penebangan dan penambangan ilegal memperburuk masalah ini. Paparan asap kebakaran hutan memicu penyakit pernapasan, penyakit kardiovaskular, dan kematian dini, terutama di kalangan anak-anak dan lansia. Kebakaran juga mengganggu produksi pertanian, rantai pasokan, dan pariwisata, yang menyebabkan kerugian miliaran dolar. Terjadi penghancuran lahan adat dan mata pencaharian tradisional, memperdalam kesenjangan sosial, memaksa masyarakat untuk bermigrasi dan meningkatkan ketegangan terkait penggunaan lahan.
Negara memperkenalkan insentif pajak bagi pemilik lahan yang melestarikan tutupan hutan, sehingga mengurangi praktik pertanian tebang bakar. Proyek konsesi restorasi lahan publik mulai secara eksplisit memasukkan risiko kebakaran sebagai pertimbangan utama.
Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) dapat menyediakan kendaraan, perahu, drone, dan pelatihan untuk mendukung upaya pencegahan kebakaran. Brasil juga terus berinvestasi besar-besaran dalam teknologi baru untuk mencegah dan mengelola kebakaran.
Drone pemadam kebakaran otonom sedang diuji untuk mendeteksi dan memadamkan kebakaran tahap awal. Terdapat juga solusi bioteknologi yang sedang berkembang, seperti penelitian tentang spesies pohon tahan api dan perawatan tanah, untuk mengurangi penyebaran api di wilayah yang rentan.
Tak ada ruginya kita belajar dari pemilik Amazon, hutan terbesar dunia ini. Rupanya Brasil tak hanya piawai menendang bola, tetapi juga sigap menjaga gawangnya dari kebobolan kebakaran hutan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.