RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan masyarakat mewaspadai ancaman bencana hidrometeorologi basah menjelang musim hujan. Peringatan tersebut menyusul prediksi BMKG mengenai keterlambatan awal musim hujan di 61,68 persen wilayah Indonesia.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton S.P. Panjaitan, menyebut sejumlah wilayah berpotensi mengalami hujan. Wilayah Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat menjadi perhatian menyusul kejadian banjir yang mulai terjadi di beberapa daerah.
"BMKG menyampaikan adanya penundaan musim hujan di sejumlah wilayah Indonesia hingga satu sampai satu setengah bulan. Bahkan, beberapa daerah diperkirakan baru memasuki musim hujan pada Desember atau awal tahun depan," ujarnya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Selasa, 3 November 2026.
Sementara itu, BNPB juga mengingatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Kalimantan yang belum sepenuhnya terkendali. Meski titik api menurun drastis, kebakaran di bawah permukaan lahan masih berpotensi terjadi sehingga masyarakat perlu tetap waspada.
Ia menjelaskan, ancaman bencana saat musim hujan tidak hanya berupa banjir yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat. Tanah longsor, angin kencang, hingga puting beliung juga menjadi ancaman yang perlu diantisipasi pemerintah daerah bersama masyarakat.
"Ketika memasuki musim hujan, bencana hidrometeorologi basah yang perlu diwaspadai meliputi banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem. Termasuk puting beliung serta angin kencang yang berpotensi terjadi dalam waktu dekat," katanya.
[bacajuga=3;title="BNPB Minta Pemda Siagakan Posko Karhutla hingga Tingkat Desa";sumber="berita"]
[bacajuga=2;title="BNPB Tetapkan Delapan Langkah Kesiapsiagaan Hadapi Musim Hujan";sumber="berita"]
[bacajuga=1;title="BNPB Instruksikan Kepala Daerah Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Bencana";sumber="berita"]
Untuk mengantisipasi berbagai ancaman tersebut, BNPB telah menyampaikan delapan langkah kesiapsiagaan kepada pemerintah daerah sebagai pedoman menghadapi musim hujan. Salah satu langkah mendesak ialah memetakan wilayah rawan banjir dan longsor berdasarkan kondisi geografis serta riwayat kejadian bencana.
Bupati dan wali kota diminta memahami karakteristik wilayah masing-masing, terutama kawasan dataran rendah dan daerah perbukitan. Pemetaan tersebut perlu disampaikan kepada masyarakat melalui informasi yang jelas agar warga memahami potensi ancaman tanpa menimbulkan kepanikan.
"Pemerintah daerah harus mengetahui wilayah mana saja yang berpotensi mengalami banjir maupun tanah longsor. Informasi berdasarkan kajian dan riwayat kejadian perlu disampaikan kepada masyarakat sebagai langkah antisipasi," ucapnya.
Selain pemetaan, pemerintah daerah juga perlu memastikan kesiapan personel, peralatan, kendaraan operasional, hingga ketersediaan logistik kebencanaan. BNPB menekankan pentingnya pelatihan, bimbingan teknis, serta pengarahan petugas agar seluruh personel memahami tugas masing-masing saat menghadapi bencana.
BNPB juga meminta pemerintah daerah meningkatkan pemantauan informasi cuaca serta memperhatikan setiap peringatan dini dari BMKG. Langkah tersebut penting agar petugas dan masyarakat dapat mengambil tindakan lebih cepat sebelum bencana hidrometeorologi terjadi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.