RRI.CO.ID, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sektor jasa keuangan Indonesia masih terjaga stabil di tengah ketidakpastian ekonomi global. Kondisi tersebut berlangsung saat konflik geopolitik, tekanan inflasi, dan ekspektasi kenaikan suku bunga masih berlanjut.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan kenaikan harga energi turut memengaruhi inflasi global. Tekanan tersebut terjadi seiring meningkatnya eskalasi konflik geopolitik di berbagai kawasan.

Friderica mengatakan inflasi di sejumlah negara, termasuk Jepang dan Inggris, mengalami lonjakan. Tingkat inflasi tersebut bahkan telah melampaui rentang target yang ditetapkan.

Menurut Friderica, tekanan inflasi mendorong bank sentral di berbagai negara melanjutkan pengetatan kebijakan moneter. Suku bunga acuan global diperkirakan tetap berada pada level tinggi hingga 2027.

[bacajuga=1;title="OJK Catat Aset Perbankan Syariah Tumbuh 10,16 Persen pada September 2026";sumber="berita"]

Sementara itu, keterbatasan ruang fiskal mengurangi kemampuan pemerintah sejumlah negara, terutama di Eropa, untuk memberikan subsidi. Kondisi tersebut semakin menekan daya beli masyarakat akibat kenaikan harga.

“Sejumlah negara bahkan menghadapi konsolidasi fiskal melalui penyesuaian anggaran belanja pemerintah. Perkembangan tersebut turut meningkatkan ketegangan sosial dan memicu gejolak secara luas di berbagai negara,” ujarnya dalam konferensi pers secara daring, Kamis, 5 November 2026.

Ekspektasi suku bunga tinggi dan ketidakstabilan politik global turut meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan. Situasi tersebut membuat investor cenderung menghindari risiko atau mengambil sikap risk-off.

[bacajuga=2;title="OJK Imbau Masyarakat Tetap Tenang terkait Kendala Transaksi di MNC Bank";sumber="berita"]

Kinerja bursa saham global juga dipengaruhi koreksi saham-saham teknologi. Pada saat bersamaan, imbal hasil obligasi pemerintah di sejumlah negara meningkat hingga mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.

Di dalam negeri, OJK mencermati perubahan perilaku konsumsi masyarakat yang semakin berhati-hati. Inflasi meningkat, terutama dipengaruhi kenaikan harga pangan, sedangkan pertumbuhan uang beredar dan inflasi inti relatif stabil.

Dari sisi produksi, aktivitas manufaktur nasional juga memperlihatkan penguatan. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 meningkat menjadi 54, tertinggi sejak Maret 2024.

Adapun pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2026 tetap terjaga sebesar 5,4 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Seluruh lapangan usaha juga mencatatkan pertumbuhan positif.