RRI.CO.ID, Jakarta - Danantara didorong menjadi katalis untuk menarik keterlibatan investor swasta dalam pembangunan berbagai proyek strategis nasional. Tenaga Ahli Bakom RI, Aditya Laksmana Yudha mengatakan, langkah tersebut diperlukan untuk memperbesar sumber pembiayaan investasi di tengah keterbatasan kapasitas APBN.
Menurutnya, kebutuhan investasi untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi delapan persen diperkirakan mencapai Rp13.000 triliun. Kebutuhan tersebut dinilai tidak dapat sepenuhnya dipenuhi melalui anggaran negara.
“Ini mau tidak mau harus didorong melalui mesin-mesin investasi. Dalam hal ini melalui negara, lembaga-lembaga negara, BUMN di bawah Danantara dan juga investasi swasta,” kata Aditya saat berbincang dengan Pro3 RRI, Senin, 2 November 2026.
[bacajuga=1;title="Pemerintah Andalkan APBN dan Danantara Jadi Dua Mesin Penggerak Ekonomi RI";sumber="berita"]
Menurutnya, Danantara memiliki peluang untuk mempertemukan investasi pemerintah dan swasta melalui proyek-proyek yang memang dirancang melibatkan berbagai pihak. Pembiayaan pembangunan, kata dia, tidak hanya bergantung pada kemampuan fiskal negara.
“Jadi nanti ini Danantara ini bisa menjadi katalis untuk membuka keterlibatan swasta. Mengajak swasta juga masuk di dalamnya melalui proyek-proyek yang memang berorientasi pada pelibatan swasta,” ujarnya.
Aditya mencontohkan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste to energy sebagai salah satu bidang yang membuka peluang kerja sama tersebut. Dalam proyek ini, Danantara mengambil peran sekaligus bermitra dengan perusahaan swasta, termasuk investor dari luar negeri.
[bacajuga=2;title="Hilirisasi Danantara Diproyeksikan Serap 37 Ribu Pekerja";sumber="berita"]
“Misalnya kalau kita lihat proyek PSEL ya, pengolahan sampah menjadi energi listrik. Itu memang di situ dimotori PSEL atau waste to energy, di dalamnya Danantara mengambil peran, tetapi Danantara tidak sendiri,” ucapnya.
Selain pengolahan sampah, keterlibatan investor swasta juga diarahkan pada pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Aditya menyebut Danantara melalui perusahaan-perusahaan BUMN turut merangkul pemain industri baterai yang memiliki pengalaman dan kapasitas produksi.
“Danantara melalui perusahaan-perusahaan BUMN di bawah Danantara juga merangkul perusahaan-perusahaan raksasa-raksasa. Pemain-pemain industri baterai kendaraan bermotor yang memang sudah mempunyai pengalaman dan kapasitas industri untuk masuk di dalamnya, karena kita mempunyai sumber daya nikel,” kata Aditya.
[bacajuga=3;title="Bos Danantara Ingatkan Investor Tak Asal Beli Saham";sumber="berita"]
Menurutnya, kolaborasi tersebut diharapkan mempercepat pengembangan industri yang menghasilkan nilai tambah dari sumber daya alam Indonesia. Keterlibatan perusahaan swasta juga diharapkan memperluas kapasitas investasi dan mendukung penciptaan lapangan kerja.
Ia menegaskan strategi pemerintah melalui Danantara tidak hanya mengandalkan perusahaan milik negara. Pemerintah juga berupaya membuka ruang bagi investor domestik maupun asing untuk berpartisipasi dalam pembangunan proyek-proyek di Indonesia.
“Jadi ini upaya yang memang dilakukan pemerintah adalah bagaimana melalui Danantara ini juga bisa menjadi stimulan bagi investasi swasta. Baik dalam maupun negeri untuk juga terlibat di dalam perkembangan pembangunan proyek-proyek di Indonesia,” ucap Aditya.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.