RRI.CO.ID, Jakarta – Kenaikan harga beras di sejumlah pasar dilaporkan berlangsung bertahap selama lebih dari empat bulan terakhir. Perihal ini, fenomena iklim El Nino dinilai menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut.
“Ini mungkin karena juga ada beberapa faktor, memang faktor El Nino atau iklim ini memang mempengaruhi. Bagaimanapun juga kita menyadari bahwa itu mempengaruhi,” ujar Dewan Pembina DPP Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Ngadiran ST Maharjo dalam dialog bersama Pro3 RRI di Jakarta, Rabu, 4 November 2026.
Meski demikian, Ngadiran menilai pemerintah telah berupaya menjaga keterjangkauan harga melalui program beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Ia menilai kualitas beras SPHP saat ini sudah lebih baik dibandingkan kondisi beberapa tahun sebelumnya.
Namun, menurutnya, pelaksanaan program tersebut masih menghadapi sejumlah hambatan, terutama dalam distribusi beras kepada pedagang pasar. Ia menilai ketersediaan stok di gudang pemerintah perlu diimbangi dengan pasokan yang memadai di pasar.
Menurut Ngadiran, harga beras sayur yang sebelumnya Rp10.000 kini mencapai Rp12.000 hingga Rp12.500 per liter. Sementara itu, beras medium yang sebelumnya Rp12.000 kini dijual sekitar Rp14.000 atau bahkan lebih per liter.
[bacajuga=1;title="Jaga Daya Beli Masyarakat, Pemerintah Salurkan Bantuan Beras 30 Kg";sumber="berita"]
[bacajuga=2;title="Polisi Ungkap Dugaan Pengemasan Ulang 20 Ton Beras SPHP di Pasuruan";sumber="berita"]
Ia menjelaskan kenaikan harga tersebut tidak terjadi sekaligus, melainkan berlangsung secara bertahap. Kenaikan sekitar Rp100 hingga Rp200 secara berulang membuat harga beras terus mengalami peningkatan.
“Naiknya itu 200 perak, 200 perak, 200 perak, 100 perak, tapi kan terus aja itu. Artinya kalau naik gunung tuh enggak enggak pernah ada landainya gitu, naiknya terus,” ucapnya.
Ngadiran juga menyoroti daya beli masyarakat yang dinilai masih lemah di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok. Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin kesulitan memenuhi kebutuhan beras sehari-hari.
Ia juga mengusulkan agar Bulog menyalurkan beras SPHP langsung kepada pedagang berdasarkan pendataan kebutuhan masing-masing pasar. Menurutnya, mekanisme tersebut dapat membantu pedagang kecil sekaligus memperluas distribusi beras kepada masyarakat.
“Insya Allah, dengan cara jangan terlalu curiga, tolong dibimbing dan diawasi. Jadi jangan pedagang suruh ngambil sendiri ke gudang Bulog,” ujarnya.
Ia juga menyarankan pendataan dilakukan bersama kepala pasar, koperasi pedagang, dan asosiasi pasar. Dengan demikian, jumlah pasokan dapat disesuaikan berdasarkan kebutuhan serta kemampuan masing-masing pedagang.
Ngadiran berharap penyaluran beras SPHP melalui pedagang dapat membantu menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen. Ia menilai distribusi yang tepat perlu disertai pengawasan dan pembinaan agar manfaat program dirasakan masyarakat.
“Jadi mestinya tugasnya pemerintah melakukan pembinaan terhadap pedagang. Serahkan ke pedagang, dikontrol,” kata Ngadiran.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.