RRI.CO.ID, Jakarta - Film pendek Indonesia Golden Island (Kota Emas) karya sutradara Arief Budiman meraih penghargaan Best Southeast Asian Short Film di Singapore International Film Festival (SGIFF). Film ini mengangkat persoalan identitas dan rasa memiliki sebagai bagian dari masyarakat Indonesia.

Dewan juri mengapresiasi keberanian Golden Island dalam membahas kompleksitas hubungan antarmasyarakat. Film ini juga menghadirkan pandangan kritis terhadap sejarah ketimpangan di Indonesia.

Berdurasi 22 menit, Golden Island menceritakan dua sahabat yang berasal dari Papua dan Jawa. Keduanya menonton kembali rekaman yang pernah mereka buat.

[bacajuga=1;title="'Ghost in the Cell' Raih Tiga Penghargaan di Fantasmagoria Film Festival";sumber="berita"]

Dalam proses tersebut, mereka memperdebatkan hubungan Papua dengan wilayah Indonesia lainnya. Percakapan itu kemudian membawa persoalan identitas dan rasa memiliki sebagai orang Indonesia.

Melalui cerita tersebut, Arief Budiman mengangkat perbedaan pengalaman dan cara pandang masyarakat. Dewan juri menilai film ini mampu menyampaikan persoalan tersebut melalui pendekatan penceritaan yang kreatif dan kolaboratif.

Sebelumnya, Golden Island telah lebih dahulu melakukan pemutaran perdana dunia (world premiere) di International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2026. Film ini kemudian melanjutkan perjalanannya ke SGIFF dan berhasil membawa pulang penghargaan.

[bacajuga=2;title="Putri Marino Raih Nominasi Best Performance Lewat 'Empat Musim Pertiwi'";sumber="berita"]

Setelah meraih penghargaan tersebut, Golden Island dijadwalkan kembali diputar pada Sabtu, 7 November 2026, pukul 19.00 waktu setempat. Pemutaran ini menjadi bagian dari program khusus yang menghadirkan film-film pemenang, termasuk kategori Best Asian Feature Film.

Penghargaan di SGIFF ke-37 menambah pencapaian Golden Island di festival film internasional. Film ini membawa cerita tentang identitas dan keberagaman masyarakat Indonesia kepada penonton di luar negeri.