RRI.CO.ID, Jakarta - Guguran lava pijar Gunung Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, terpantau mengalir ke sejumlah sungai. Aliran material vulkanik tersebut, berpotensi mengarah ke delapan sungai, sehingga warga di kawasan sekitar diminta meningkatkan kewaspadaan.
Melansir laporan Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Karangetang periode pengamatan 30 Oktober 2026, guguran lava berasal dari puncak kawah utara. "Guguran lava pijar dari puncak kawah utara mengalir ke arah selatan sejauh kurang lebih 200-700 meter di pelana kawah utara dan selatan," kata Nadhif Personel Pos PGA Karangetang, Nadhif Dhaifullah dalam laporan Info Gunung Api Sitaro di Manado, Sabtu, 31 Oktober 2026.
[bacajuga=1;title="Gunung Ibu di Halmahera Erupsi Semburkan Abu Setinggi 200 Meter";sumber="berita"]
Dalam laporan pengamatan tersebut, ia menjelaskan, aliran lava kemudian berbelok ke arah barat dan barat daya sejauh sekitar 300-400 meter. Setelah itu, guguran lava bergerak ke arah barat daya dan barat dengan jarak sekitar 700-1.000 meter.
"Jalur aliran tersebut berpotensi mengarah ke Kali Hiung, Kali Sumpihi, Kali Kinali, Kali Pangi, dan Kali Kiawang. Sementara itu, guguran lava yang bergerak ke arah barat laut terpantau mencapai jarak sekitar 500-700 meter," ucapnya.
Aliran tersebut, ia mengatakan, berpotensi menuju Kali Batuare, Kali Batukole, dan Kali Malrbuhe. Pengamatan melalui kamera CCTV pada malam hari juga memperlihatkan, sinar api di kedua kawah Gunung Karangetang.
[bacajuga=2;title="Status Gunung Karangetang Waspada, Warga Diminta Jauhi Zona Bahaya";sumber="berita"]
"Ketinggian sinar api di kawah utara teramati sekitar 5-200 meter, sedangkan di kawah selatan mencapai sekitar 5-150 meter. Aktivitas kegempaan selama periode pengamatan turut menunjukkan aktivitas vulkanik yang terekam oleh Pos PGA," ujarnya.
Lalu, ia menuturkan, Pos PGA juga mencatat 64 kali gempa guguran, 238 kali gempa embusan, hingga 55 kali tremor non-harmonik. "40 kali tremor harmonik, satu kali gempa tornillo, tiga kali gempa vulkanik dangkal, dan delapan kali gempa tektonik jauh, serta kejadian gempa hybrid," katanya.
[bacajuga=3;title="BKSDA Tegaskan Gunung Anak Krakatau Bukan Destinasi Wisata";sumber="berita"]
Status Karangetang Masih Level II (Waspada)
Melansir laman Kementerian ESDM, PVMBG menetapkan, status Gunung Karangetang masih pada Level II atau Waspada. Dalam rekomendasinya, masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati kawasan berbahaya, melakukan pendakian, maupun beraktivitas di zona yang telah ditetapkan.
Zona larangan tersebut, mencakup radius 1,5 kilometer dari puncak kawah dua atau kawah utara serta kawah utama di bagian selatan. Area perluasan sektoral ke arah selatan barat daya, juga masuk zona bahaya hingga sejauh 2,5 kilometer.
"Potensi guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Ancaman tersebut berkaitan dengan tumpukan material lava sebelumnya yang kondisinya belum stabil dan berisiko runtuh," ucapnya.
[bacajuga=4;title="Tiga Kali Letusan Terjadi di Gunung Karangetang, Ini Zona Bahayanya";sumber="berita"]
Warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai dengan hulu di puncak Gunung Karangetang juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan. Mereka perlu mewaspadai, potensi lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir mengikuti sungai hingga mencapai kawasan pantai.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.