RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penguatan pada pembukaan perdagangan Selasa, 3 November 2026. Pada awal sesi pertama, IHSG berada pada level 5.126,53 atau naik 29,7 poin (0,58 persen) dibandingkan penutupan sebelumnya.

Sebelumnya, IHSG ditutup menguat 0,79 persen di level 5.096,83. Tim Phintraco Sekuritas menyebut pergerakan IHSG tidak akan terlalu fluktuatif hari ini

"Secara teknikal, terjadi sedikit penyempitan histogram negatif MACD IHSG, sedangkan Stochastic RSI mengindikasikan potensi Golden Cross di area pivot. Hari ini IHSG diperkirakan akan bergerak sideways pada kisaran 4.950-5.200," ucap Tim Phintraco Selasa, 3 November 2026.

Sementara itu, Indeks S&P Global Manufacturing atau Purchasing Managers' Index (PMI) melanjutkan penguatan. Indeks Manufaktur Indonesia di bulan Oktober berada di level 54, naik dari 52,4 di September 2026.

"Data tersebut lebih baik dari perkiraan yang di level 51,9," ucap Tim Phintraco. Neraca perdagangan membukukan surplus USD3,36 miliar pada September 2026, lebih tinggi dari konsensus sebesar USD1,9 miliar.

"Secara keseluruhan, indikator ekonomi menunjukkan fundamental ekonomi domestik masih relatif terjaga. Aktivitas produksi menguat dan tekanan inflasi yang sedikit mereda," ujar Tim Phintraco.

Namun, perbaikan indikator domestik tersebut dinilai belum mampu meredam tekanan di pasar obligasi pemerintah. Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun meningkat ke sekitar level 7,75 persen, level tertinggi sejak 2020.

"Kenaikan imbal hasil dipengaruhi meningkatnya imbal hasil global dan tekanan terhadap rupiah. Termasuk arus keluar dana asing, serta kenaikan premi risiko Indonesia," kata Tim Phintraco.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa investor masih meminta imbal hasil lebih tinggi untuk mengompensasi risiko. "Sehingga tekanan terhadap harga obligasi dan biaya pembiayaan pemerintah berpotensi berlanjut dalam jangka pendek," ucapnya.