Dewi menyisipkan benang merah dan emas pada alat tenun peninggalan neneknya. Selendang bermotif Saga Merah yang sedang ia kerjakan akan dijual seharga Rp3,5 juta. Sejak belajar menenun di bangku SMA, Dewi membawa keterampilan itu ke mana-mana, bahkan memboyong alat tenunnya ke rumah kos saat kuliah di Padang. Kini, usahanya juga memberi pekerjaan kepada perajin yang menenun di rumah masing-masing. Rencana jalan tol Padang–Pekanbaru yang akan melintasi Nagari Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar, membuatnya waswas: lahan pertanian, permukiman, dan tempat usaha songket di nagari itu berpotensi terdampak. Bagi Sofiani Sri Azizah, ladang dan alat tenun sama-sama membiayai pendidikan anak. Suaminya menanam sayuran, sementara Sofiani menenun setelah anak berangkat sekolah. Saat uang sekolah jatuh tempo, hasil penjualan sayur bisa langsung dipakai untuk membayarnya. Pertanian di nagari ini juga menyediakan pekerjaan bagi warga dari nagari sekitar, dengan upah buruh tani mencapai Rp120.000 sehari, menurut Sofiani. Jika lahan berkurang, keluarga pemilik tanah dan para pekerja sama-sama berisiko kehilangan penghasilan. Uang ganti rugi pun belum tentu cukup untuk membeli rumah dan menemukan lahan yang bisa kembali mereka garap. Menurut perkiraan yang dihimpun tokoh pemuda setempat, Mahdi Latief, trase tol tersebut berpotensi berdampak pada 18 hektar lahan pertanian, 1,8 hektar permukiman, dan tujuh bangunan usaha songket. Warga memperkirakan omzet pertanian dan tenun mencapai Rp27 miliar setahun, sementara nilai ganti rugi lahan ditaksir Rp181 miliar. Keduanya merupakan perkiraan warga. Angka omzet belum dikurangi biaya produksi, sehingga tidak dapat dibaca sebagai laba atau nilai kerugian tahunan. Bagi Mahdi, angka itu membantu menunjukkan besarnya kegiatan ekonomi yang selama ini…This article was originally published on Mongabay
Nasional
Jalur Tol di Tanah Pusako, Warga Pandai Sikek Resah Lahan Pertanian Hilang
Dewi menyisipkan benang merah dan emas pada alat tenun peninggalan neneknya. Selendang bermotif Saga Merah yang sedang ia kerjakan akan dijual seharga Rp3,5 juta. Sejak belajar menenun di bangku SMA, Dewi membawa keterampilan itu ke mana-ma
Disarikan dari Mongabay Indonesia Baca laporan asli di sumbernya untuk konteks lengkap.
Buka sumber
Sumber
Kunjungi mongabay.co.id
Sumber Berita Mongabay Indonesia
Kami menyajikan ringkasan dan konteks tambahan. Kunjungi situs asli untuk membaca laporan secara utuh di tab baru.
Ruang diskusi
Komentar 0
Diskusi terbuka untuk anggota. Jaga kesopanan, hindari ujaran kebencian, dan sertakan konteks.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.