RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS dalam perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun tipis 0,04 persen atau 9 poin ke posisi Rp18.089 per dolar AS.
Perkembangan Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan rupiah. "Pasar merespon negatif serangan terhadap kapal-kapal tanker yang di Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan," kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Jumat, 6 November 2026.
Ibrahim mengutip data United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) yang mencatat laporan lima kapal yang mengalami insiden. Frekuensi serangan di bulan Oktober mendekati rekor yakni 35 insiden.
[bacajuga=2;title="Rupiah Bergerak Berbalik Melemah Hari ini, Dipicu Sentimen Risk Off";sumber="berita"]
[bacajuga=1;title="BI Catat Kenaikan Cadangan Devisa Oktober 2026";sumber="berita"]
Iran melaporkan sejumlah serangan ke kapal tanker di dekat Selat Hormuz. Sedangkan Arab Saudi memperingatkan akan potensi serangan kelompok Houthi.
"Prospek geopolitik tetap tidak menentu menyusul pemilihan umum paruh waktu di Amerika Serikat. Hasil pemilu sempat memicu harapan konflik akan berakhir, tapi ternyata tidak menjamin tercapainya terobosan diplomatik," ujar Ibrahim.
Kekhawatiran gangguan pasokan energi meluas hingga ke luar Timur Tengah setelah Ukraina kembali menyerang kilang minyak Rusia. Salah satu kilang terbesar di Rusia, Ryazan, disebut mendapat serangan drone pada Kamis malam.
Di dalam negeri, pelaku pasar mengkhawatirkan kondisi fiskal pemerintah karena kenaikan harga minyak dunia. Subsidi dan kompensasi energi menjadi beban APBN.
Di sisi lain, komitmen belanja pemerintah yang besar membutuhkan pembiayaan yang tidak sedikit. "Sehingga menjadi perhatian investor yang mencermati defisit anggaran dan keberlanjutan fiskal," ucap Ibrahim.
Sebagai gambaran, hingga akhir Oktober 2026, harga minyak mentah Indonesia (ICP) telah mencapai USS93 per barel, jauh di atas asumsi APBN. Pemerintah juga menaikkan anggaran subsidi dan kompensasi energi dari Rp338 triliun menjadi Rp500 triliun.
Hal ini menjadi perhatian investor karena dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah untuk membiayai program pembangunan lainnya. Di sisi lain, arus keluar modal asing yang masih berlanjut menambah tekanan terhadap pasar keuangan.
Sehingga pelaku pasar cenderung lebih berhati-hati karena khawatir terhadap pelemahan rupiah. Termasuk risiko inflasi impor, dan ketahanan fiskal pemerintah.
"Akibatnya, meskipun pertumbuhan ekonomi cukup kuat, kepercayaan investor belum sepenuhnya pulih. Dampaknya ke rupiah yang masih rentan mengalami tekanan," ujar Ibrahim menutup analisisnya.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.