RRI.CO.ID, Jakarta - Operator perkeretaapian kini menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan kecepatan perjalanan dan tuntutan aksesibilitas masyarakat luas. Perluasan stasiun singgah komuter dinilai memperpanjang waktu tempuh sejumlah perjalanan kereta api antarkota jarak jauh.

Vice President Corporate Communication PT Kereta Api Indonesia (Persero) Anne Purba memaparkan dinamika penyesuaian operasional tersebut. Kebijakan operasional transportasi massal itu dirancang guna memenuhi kebutuhan mobilisasi para pekerja di kawasan penyangga.

"Jadi ada yang memang waktu tempuhnya bertambah, gitu ya, tetapi ini adalah kereta-kereta yang lebih cepat. Bahkan ada yang lebih cepat sampai 1,5 jam, itu Kahuripan, gitu ya. Kemudian ada Pasundan sampai Serayu, itu lebih cepat di atas 30 menit," kata Anne di Jakarta pada hari Selasa, 3 November 2026.

Anne menerangkan bahwa penambahan titik perhentian kereta jarak jauh difokuskan pada kawasan padat komuter Jakarta. Langkah tersebut diambil guna memecah penumpukan ribuan calon penumpang yang hendak menuju ke stasiun pusat.

"Jadi sebenarnya penambahan waktu tempuhnya itu kita upayakan selalu di bawah 10 menit, tetapi bisa memberi kemudahan, bisa memberi efisien waktu kepada Teman-teman yang ada di Cikarang sekitarnya, Bekasi, dan juga Jatinegara," katanya.

"Karena saat ini kita melihat juga untuk masuk Gambir dan Pasar Senen juga termasuk wilayah-wilayah yang peningkatan kemacetan, sehingga kita juga bisa mengintegrasikan Commuter Line dengan kereta jarak jauh, sehingga kami membuat ataupun menambah perjalanan kereta yang bisa melayani naik turun di Stasiun Jatinegara, Bekasi, dan juga Cikarang," ujar Anne.

Ia menyatakan bahwa volume penumpang di sejumlah stasiun kawasan satelit mengalami peningkatan pertumbuhan secara nyata. Konektivitas antarmoda di stasiun pinggiran tersebut mampu memangkas waktu tempuh perjalanan harian para pengguna komuter.

"Tetapi di dalam Gapeka ini juga kami sudah menyiapkan puluhan kereta yang sudah bisa kami me-reduce waktu tempuhnya itu sampai 90 menit. Kalaupun ada kereta-kereta yang bertambah, gitu ya, khususnya dari Jakarta dan juga Pasar Senen dan juga Gambir, itu kita upayakan di bawah 10 menit kalau dia tidak ada penambahan stasiun. Tetapi seperti kereta seperti Sangkuriang yang menambah enam stasiun, itu dalam satu arah bisa menambah 50 menit, tetapi satu arah sebaliknya itu bisa me-reduce hampir 50 menit untuk yang namanya waktu tempuh," ucap Anne.

Anne memaparkan bahwa pola operasi asimetris diterapkan guna mengoptimalkan frekuensi perjalanan armada pada lintasan tunggal. Tingginya minat penumpang pada rute antarkota dalam provinsi membuktikan keberhasilan penguatan konsep layanan aglomerasi.

"Satu yang menjadi andalan kita, kita harapkan juga bisa seperti Joglosemarkerto, ya. Itu kan membangkitkan aglomerasi mulai dari Semarang, Purwokerto, Jogja, Solo. Ini dari utaranya kita ada KA Pandawa dari Semarang Tawang, Solo Balapan, Jogja PP," kata Anne.

Pengoperasian layanan kereta baru tersebut menjadi solusi praktis sebelum pembangunan jaringan elektrifikasi jalur rel terealisasi. Layanan transportasi lokal ini memperkuat integrasi ekonomi antarkota di wilayah Jawa Tengah dan juga Yogyakarta.

Penetapan Grafik Perjalanan Kereta (Gapeka) baru menambah puluhan perjalanan serta meningkatkan kapasitas tempat duduk harian. Masyarakat diimbau mencari jadwal perjalanan relasi tujuan melalui beragam opsi keberangkatan pagi hingga malam hari.

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Bobby Rasyidin menyampaikan komitmen peningkatan mutu konektivitas antardaerah tersebut. Penyelarasan jadwal perjalanan kereta terus disempurnakan demi menjamin keseimbangan antara kecepatan dan keterjangkauan seluruh wilayah.

"Delapan puluh satu tahun setelah momentum tersebut, KAI terus melanjutkan perannya dalam melayani masyarakat dan mendukung konektivitas Indonesia. Tema ‘Semakin Melayani’ menjadi komitmen agar setiap pertumbuhan dan transformasi perusahaan diikuti dengan peningkatan kualitas pelayanan dan manfaat bagi masyarakat. Pertumbuhan membawa tanggung jawab yang semakin besar. Kebutuhan mobilitas yang terus meningkat harus kita jawab melalui peningkatan kapasitas dan keandalan layanan, penguatan sarana dan prasarana, serta keselamatan dan integrasi antarmoda," ujar Bobby di Jakarta pada hari Senin, 28 September 2026.

Pemerataan layanan perkeretaapian diharapkan mampu memacu denyut pertumbuhan ekonomi daerah secara menyeluruh dan berkeadilan. Pengembangan angkutan aglomerasi juga terbukti ampuh mengurangi ketergantungan kendaraan pribadi sekaligus menekan emisi gas buang.