Sejak awal Oktober lalu api mulai melahap sekitar 20 hektar hutan dan kebun warga di Taman Love, Kelurahan Moya, Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara. Api muncul melalap kebun warga dan hutan, serta terus meluas. Saat ini, hujan mulai turun. Hingga pertengahan Oktober lalu, asap masih menyelimuti Ternate dan Halmahera. Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan asap akan bertahan beberapa hari, berasal dari kebakaran di Halmahera dan Ternate, serta kiriman dari Papua dan Maluku. Di lokasi lain, asap mengepul di jalanan Kelurahan Sulamadaha, Kecamatan Ternate Barat, Kota Ternate, Maluku Utara, Rabu sore 7 Oktober. Bau plastik terbakar menyengat sepanjang jalan, lebih dari satu kilometer dari titik api di tempat pembuangan akhir (TPA) Buku Deru-Deru, Kelurahan Takome. Angin membawa asap itu ke kawasan konservasi Pulo Tareba dan kelurahan lain di Ternate Barat, hingga Kelurahan Kulaba. Kebakaran bermula pada Sabtu, 3 Oktober sekitar pukul 13.00 WIT. Api diduga muncul dari gubuk kosong di area TPA, lalu menjalar ke zona aktif karena angin kencang dan sampah kering. TPA itu luasnya sekitar 31 hektar. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan area terdampak sekitar 11 hektar. Lima hari berselang, api belum juga padam dan merembet ke Sulamadaha serta jalan menuju wisata Jikomalamo. Pemerintah Kota Ternate menetapkan status tanggap darurat karhutla untuk 3-16 Oktober. Pemadaman api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kelurahan Takome Ternate. Foto: dokumen warga Dari Morotai hingga Taliabu Ternate hanyalah satu titik. Karhutla juga melanda Tidore Kepulauan, Halmahera Timur, Halmahera Tengah, Halmahera Utara, Pulau Morotai, dan…This article was originally published on Mongabay