RRI.CO.ID, Jakarta – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menerapkan teknologi pembasahan kembali (rewetting) lahan gambut di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan. Tujuannya untuk meningkatkan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut.

Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, meninjau infrastruktur pembasahan gambut di Distrik Simpang Tiga, OKI. Ini dilakukan untuk memastikan tata kelola air di kawasan gambut berjalan optimal sekaligus mencegah kebakaran berulang.

Jumhur mengatakan penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah muncul. Menurut dia, langkah pencegahan perlu ditingkatkan melalui inovasi pengelolaan tata air gambut.

“Semangat gotong royong ini harus terus ditingkatkan, tidak hanya dalam pemadaman tetapi juga melalui upaya pencegahan,” ujarnya, Senin 2 November 2026. “Salah satunya dengan mengembangkan inovasi pembasahan kembali lahan gambut melalui pemanfaatan aliran air sungai, pompa, dan sekat kanal.”

Menteri berharap penerapan sistem tersebut dapat diperluas secara berkelanjutan. Tujuannya untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan pada masa mendatang.

Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut KLH, Edy Nugroho Santoso, mengatakan sistem pembasahan gambut di OKI memanfaatkan pasokan air. Menurut dia, air dari Sungai Lumpur tersebut dialirkan secara gravitasi sejauh 13 kilometer.

“Selanjutnya distribusi air dilakukan menggunakan empat unit pompa dengan kapasitas masing-masing satu juta liter per jam,” ujarnya. “Pompa beroperasi selama 20 jam per hari untuk menjangkau area pembasahan hingga 23 kilometer melalui jaringan kanal.”

Selain menjaga kelembapan gambut, sistem distribusi air tersebut juga dimanfaatkan untuk mendukung operasi pemadaman apabila terjadi kebakaran. Pada kesempatan itu, KLH juga memperkenalkan Pompa Sambunesia karya Sambusir.

Pada saat bersamaan, Jumhur menemui Masyarakat Peduli Api (MPA) di Desa Penyandingan, Kecamatan Tulung Selapan, OKI. Lebih dari 100 personel MPA terlibat dalam operasi pemadaman karhutla selama lebih dari 50 hari.