RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Ketua Bidang Kesehatan Olahraga KONI Pusat, L. Grace Tumbelaka, menilai keselamatan atlet perlu mendapat perhatian besar. Hal tersebut menyusul meninggalnya dua atlet muda dalam Porprov XVII Jawa Tengah 2026.

Kedua atlet tersebut adalah Syabilla Rizkia Putri Raharja dari cabang olahraga selam dan Ayudiah Rivana Tridiandinata dari silat. Grace mengatakan, peristiwa tersebut menjadi pelajaran penting bagi penyelenggara dan seluruh pemangku kepentingan olahraga.

“Keselamatan dan kesehatan atlet itu perlu mendapat perhatian yang lebih besar,” ujar Grace dalam wawancara bersama Pro 3 RRI, Senin, 2 November 2026. Menurutnya, pemeriksaan kesehatan atlet harus dilakukan secara sistematis melalui prosedur Pre-Participation Evaluation atau PPE.

Pemeriksaan tersebut mencakup riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, tekanan darah, denyut nadi, serta kondisi jantung dan paru-paru. Pemeriksaan penunjang seperti laboratorium dan EKG juga diperlukan sesuai indikasi serta karakteristik cabang olahraga.

Grace menegaskan, PPE seharusnya dilakukan secara rutin selama pemusatan latihan, bukan hanya menjelang pertandingan. “Jadi memang dari sisi perspektif kesehatan dan kedokteran atau medis, atlet itu harus menjalani yang disebut dengan PPE,” katanya.

[bacajuga=1;title="Menpora Minta Evaluasi Menyeluruh usai Dua Atlet Meninggal di Porprov Jateng";sumber="berita"]

Ia menambahkan, seluruh evaluasi kesehatan idealnya sudah diselesaikan setidaknya satu hari sebelum pertandingan berlangsung. Apabila ditemukan indikasi medis yang membahayakan, atlet seharusnya tidak diizinkan mengikuti pertandingan berdasarkan pertimbangan tim medis.

Namun, keputusan akhir kelayakan atlet bertanding perlu melibatkan tim terkait. “Seharusnya dengan mempertimbangkan rekomendasi tenaga medis,” katanya.

Grace juga menekankan pentingnya kesiapan tenaga medis selama pertandingan, terutama pada cabang olahraga berisiko tinggi. Pengawasan harus dilakukan secara aktif agar tim medis dapat segera mengidentifikasi kondisi darurat dan menentukan penanganan.

Menurut Grace, cabang olahraga memiliki tingkat risiko berbeda sehingga membutuhkan kesiapan medis dan fasilitas penanganan yang sesuai. Olahraga selam perairan terbuka dan pencak silat, lanjutnya, termasuk cabang dengan risiko berat yang membutuhkan perhatian khusus.

Kesiapan tersebut meliputi tenaga medis, peralatan pertolongan, fasilitas evakuasi, hingga sistem rujukan ke rumah sakit. Terkait evaluasi keselamatan kompetisi, Grace menilai pembenahan harus dilakukan secara menyeluruh dari tahap persiapan hingga penanganan insiden.

[bacajuga=2;title="KONI Pusat Dorong Evaluasi Keselamatan Atlet usai Insiden Porprov Jateng";sumber="berita"]

“Kalau kita mengevaluasi, kita harus evaluasi dari hulu sampai ke hilir,” ujarnya. Evaluasi tersebut mencakup kesiapan arena pertandingan, tenaga medis, kelengkapan peralatan, prosedur evakuasi, hingga proses rujukan.

Selain itu, KONI Pusat mendorong standarisasi pemeriksaan kesehatan atlet dan peningkatan kompetensi tenaga medis setiap cabang olahraga. Grace juga mengingatkan agar tenaga medis tidak hanya disiapkan menjelang pertandingan, tetapi memahami risiko setiap cabang olahraga.

“Jadi harus ada persiapan bagaimana menghadapi segala kondisi darurat sesuai dengan cabor olahraga,” ujarnya. Ia menambahkan, audit medis dan evaluasi insiden terhadap kedua kasus tersebut diperlukan sebagai bahan pembelajaran.

Menurut Grace, KONI Pusat menjalankan fungsi pemantauan sekaligus memberikan masukan bagi organisasi cabang olahraga. Sementara itu, cabang olahraga memiliki tanggung jawab utama karena paling memahami kondisi dan kebutuhan masing-masing atlet.