RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kebudayaan, Fadli Zon berharap karya sastra Aman Datuk Madjoindo dikembangkan agar menjangkau pembaca luas. Menurutnya, penerjemahan ke berbagai bahasa serta pengemasan kreatif dapat membuka peluang baru bagi pemanfaatan karya sastra klasik Indonesia.
Ia menilai, karya Aman berpotensi dikembangkan menjadi kekayaan intelektual melalui inovasi, termasuk adaptasi yang sesuai dengan perkembangan zaman. Upaya tersebut menjadi bagian hilirisasi budaya sehingga karya sastra tidak berhenti sebagai bacaan, tetapi hadir melalui media digital.
"Karya-karya Aman Datuk Madjoindo bisa diterjemahkan ke berbagai bahasa dan dikembangkan melalui kreativitas serta inovasi pada masa sekarang. Mudah-mudahan, penerbitan ulang buku-bukunya dalam versi baru dapat memperluas akses masyarakat membaca karya-karya tersebut secara luas," ujarnya dalam keterangan pers yang diterima RRI, Kamis, 5 November 2026.
Harapan itu disampaikan dalam peringatan 130 tahun Aman Datuk Madjoindo, sastrawan produktif yang menghasilkan sekitar 54 karya sastra. Dari jumlah tersebut, sekitar 20 karya merupakan novel, termasuk Si Doel Anak Betawi yang dikenal luas lintas generasi.
"Si Doel Anak Betawi merupakan salah satu karya Aman yang dikenal masyarakat dan memiliki perjalanan panjang hingga sekarang. Kisah tersebut pertama kali diterbitkan Balai Pustaka pada 1932, kemudian diadaptasi menjadi film dan tayangan televisi," katanya.
[bacajuga=3;title="Karhutla Ancam Lukisan Gua Prasejarah Maros-Pangkep, Kemenbud Kumpulkan Data";sumber="berita"]
[bacajuga=2;title="Berusia 331 Tahun, Kemenbud Segera Revitalisasi Gereja GPIB Sion Jakarta";sumber="berita"]
[bacajuga=1;title="Kemenbud Lanjutkan Pemulihan Cagar Budaya Terdampak Bencana Sumatra";sumber="berita"]
Novel Si Doel Anak Betawi terbit pada 1932 melalui Balai Pustaka, sebelum diangkat ke layar lebar pada 1970-an. Film garapan Sjuman Djaya kemudian memperluas popularitas kisah Si Doel, termasuk melalui lagu yang dikenal hingga sekarang.
Kisah tersebut kembali hadir melalui sinetron yang tayang selama lebih dari satu dekade, mulai 1994 hingga sekitar 2006. Tayangan itu menjadi hiburan masyarakat sekaligus menemani perubahan sosial Indonesia, termasuk periode menjelang dan setelah Reformasi berlangsung nasional.
"Karya ini bukan hanya menjadi tontonan, melainkan juga tuntunan karena memuat banyak pesan budaya bagi masyarakat luas Indonesia. Budaya Betawi tergambar melalui bahasa, kehidupan sehari-hari, serta hubungan orang tua dan anak dalam cerita masyarakat," ucapnya.
Menurutnya, kekuatan karya Aman terlihat dari penggunaan dialek Betawi yang dekat dengan kehidupan masyarakat Betawi setempat sehari-hari. Humor khas Betawi juga memberi warna pada cerita, sehingga nilai budaya tersampaikan secara akrab dan mudah diterima pembaca.
Pengembangan karya Aman diharapkan menjaga relevansi sastra klasik sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Betawi kepada generasi muda di Indonesia. Melalui penerbitan ulang, penerjemahan, dan adaptasi kreatif, karya tersebut berpeluang menjangkau pembaca baru di dalam maupun luar negeri.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.