RRI.CO.ID, Jakarta - Kabel bawah laut menjadi infrastruktur penting yang menghubungkan jaringan internet antarnegara dan menopang pertukaran data global. Infrastruktur ini memungkinkan masyarakat mengakses berbagai layanan digital, mulai dari komunikasi hingga transaksi keuangan.

Dikutip dari laman International Telecommunication Union (ITU), kabel telekomunikasi bawah laut membawa lebih dari 99 persen lalu lintas data internasional. Jaringan ini menghubungkan berbagai negara dan mendukung komunikasi digital lintas benua.

Kabel bawah laut umumnya menggunakan serat optik untuk mengirimkan data dalam bentuk sinyal cahaya. Teknologi tersebut memungkinkan pengiriman informasi berkapasitas besar dengan kecepatan tinggi dan kehilangan sinyal yang relatif rendah.

Jaringan kabel tersebut membentang di dasar laut dan menghubungkan stasiun pendaratan di berbagai negara. Dari stasiun tersebut, jaringan darat meneruskan data menuju pusat data, penyedia layanan internet, dan pengguna.

[bacajuga=1;title="Respon Menkomdigi Terkait Ancaman Pemutusan Kabel Laut Internet oleh Singapura";sumber="berita"]

Kabel bawah laut mendukung berbagai aktivitas digital yang masyarakat gunakan setiap hari. Layanan tersebut mencakup panggilan video, media sosial, streaming, hingga transaksi perbankan internasional.

Menurut ITU, infrastruktur ini juga mendukung layanan penting di sektor pemerintahan, kesehatan, dan pendidikan. Konektivitas internasional memungkinkan berbagai institusi bertukar informasi serta mengakses layanan digital lintas negara.

Keberadaan kabel bawah laut turut mendukung pertumbuhan ekonomi digital di berbagai kawasan. Perusahaan memanfaatkan koneksi tersebut untuk menjalankan perdagangan elektronik, layanan keuangan, dan operasional bisnis lintas negara.

Indonesia memiliki posisi geografis strategis dalam jaringan komunikasi internasional karena terletak di antara dua samudra. Sejumlah sistem kabel bawah laut menghubungkan wilayah Indonesia dengan negara lain, termasuk Singapura.

[bacajuga=2;title="Pembangunan Sistem Kabel Nongsa-Changi, Koridor Digital Indonesia-Singapura";sumber="berita"]

Dikutip dari laman Telkom Indonesia, Nongsa-Changi Cable System menghubungkan Nongsa Digital Park di Batam dengan Changi di Singapura. Sistem tersebut memperkuat konektivitas internasional sekaligus menambah pilihan jalur pertukaran data antara kedua negara.

Kabel bawah laut Nongsa-Changi memperkuat konektivitas digital antara Indonesia dan Singapura. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menilai infrastruktur tersebut menjadi fondasi penting bagi pengembangan koridor digital kedua negara.

“Infrastruktur ini menjadi fondasi fisik bagi koridor digital baru. Infrastruktur tersebut memperkuat salah satu koneksi digital tercepat dan terdekat di Asia Tenggara antara Indonesia dan Singapura,” ujarnya dikutip dari laman Kemenko Perekonomian pada Selasa, 3 November 2026.

Singapura juga berperan sebagai pusat konektivitas digital di kawasan Asia Tenggara. Keberadaan jaringan kabel bawah laut dan pusat data mendukung hubungan antara jaringan regional dengan infrastruktur digital global.

Meski penting, kabel bawah laut menghadapi berbagai risiko kerusakan selama beroperasi. ITU menyebut aktivitas manusia, seperti penangkapan ikan dan penggunaan jangkar kapal, sebagai penyebab utama gangguan kabel.

[bacajuga=3;title="Bahlil Duga Singapura Jual Kembali Gas dari Indonesia";sumber="berita"]

Selain aktivitas manusia, gempa bumi dan longsor bawah laut juga dapat merusak infrastruktur tersebut. Kerusakan kabel berpotensi mengganggu konektivitas internet dan memengaruhi layanan digital yang bergantung pada jalur komunikasi internasional.

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menjelaskan kabel bawah laut menjadi bagian penting komunikasi global. Karena itu, perlindungan dan pemeliharaan kabel diperlukan untuk menjaga keberlangsungan layanan komunikasi.

Operator dapat mengurangi risiko gangguan dengan menyediakan jalur alternatif dan meningkatkan koordinasi perbaikan. ITU juga mendorong kerja sama pemerintah dan industri untuk memperkuat ketahanan jaringan kabel bawah laut. (Reporter: Davina Keisha Salsabila)