RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan penguatan pada penutupan sesi perdagangan Jumat, 6 November 2026. IHSG ditutup pada posisi 5.050,43 atau naik 20,17 poin (0,4 persen) setelah dibuka di level 4.955,83.

Pergerakan IHSG didominasi 381 saham turun, 192 saham naik, dan 141 saham tidak berubah atau stagnan. Sementara aktivitas perdagangan tercatat dengan nilai transaksi sebesar Rp9,94 triliun.

Volume saham yang diperdagangkan tercatat sebanyak 47,12 miliar lembar. Sedangkan frekuensi perdagangan mencapai lebih dari satu 1,09 juta kali transaksi.

Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai penguatan IHSG terjadi di tengah tekanan sentimen pasar global. Pilarmas menyebut pelemahan bursa regional Asia dan Wall Street turut membayangi pergerakan saham teknologi serta kecerdasan buatan.

Aksi jual saham teknologi semakin intensif setelah kemenangan telak Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu Amerika Serikat. Perkembangan tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai regulasi industri kecerdasan buatan yang lebih ketat dan perlambatan ekspansi pusat data.

“Bursa regional Asia melemah seiring dengan melemahnya Wall Street akibat penurunan saham-saham teknologi dan kecerdasan buatan. Aksi jual semakin intensif setelah kemenangan telak Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu Amerika Serikat,” kata Tim Pilarmas Investindo Sekuritas dalam keterangan analisis tertulisnya, Jumat, 6 November 2026.

[bacajuga=1;title="Penguatan IHSG Diperkirakan Berlanjut, Ditopang Data Ekonomi yang Positif";sumber="berita"]

[bacajuga=2;title="IHSG Dibuka Melemah 74,43 Poin, Turun ke Level 4.955";sumber="berita"]

Pilarmas juga menyoroti dorongan sejumlah tokoh Partai Demokrat untuk membatasi pengembangan pusat data. Senator Bernie Sanders mendesak moratorium nasional pusat data demi melindungi lingkungan, pekerjaan, serta masa depan masyarakat.

Selain perkembangan industri teknologi, pelaku pasar turut mencermati ketegangan yang terus berlangsung di Timur Tengah. Serangkaian serangan terhadap kapal tanker di kawasan Teluk meningkatkan kekhawatiran mengenai kelancaran distribusi minyak global.

“Ketegangan yang tak kunjung usai di Timur Tengah menjadi pemicu utama bangkitnya harga minyak mentah. Serangkaian aksi serangan terhadap kapal-kapal tanker di kawasan Teluk kian mempertebal kekhawatiran terganggunya distribusi minyak global,” katanya.

Dari dalam negeri, Pilarmas menyoroti kekhawatiran fiskal di tengah tekanan pasar global dan tingginya harga minyak dunia. Arus keluar modal asing berkelanjutan serta volatilitas rupiah turut menjadi perhatian pelaku pasar.

Meski demikian, sejumlah indikator ekonomi domestik dinilai memberikan sentimen positif bagi pasar. Pertumbuhan produk domestik bruto kuartal ketiga tercatat lebih kuat dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2026 juga tercatat sebesar 146,8 miliar dolar Amerika Serikat. Angka tersebut relatif stabil dibandingkan posisi akhir September 2026 sebesar 146,3 miliar dolar Amerika Serikat.

“Pertumbuhan PDB kuartal ketiga tahun ini yang lebih kuat dari perkiraan menjadi perhatian pelaku pasar. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2026 tetap terjaga sebesar 146,8 miliar dolar AS,” ujarnya.

Pilarmas menilai pertumbuhan ekonomi dan stabilitas cadangan devisa dapat menjadi katalis positif bagi pasar domestik. Kedua indikator tersebut diharapkan mampu menahan tekanan sehingga pelemahan IHSG tidak semakin dalam.