Sejumlah aktivis dan pakar kesehatan menyatakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda berbagai wilayah di Indonesia tahun ini bukan lagi sekadar bencana ekologi. Lebih dari itu, mereka menyebut peristiwa ini menjelma sebagai krisis kesehatan krusial. Dalam siaran persnya, Yayasan Suara Sains Terbuka Indonesia (YSSTI) menyebut, kepungan asap tebal beracun yang terus berulang mengancam keselamatan jutaan jiwa masyarakat Indonesia. Terutama, kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, hingga pekerja luar ruangan. Herawati Supolo Sudoyo, Pembina YSSTI, menyoroti penanganan karhutla yang terlalu fokus pada upaya pemadaman titik api di lapangan. Padahal, dampak kesehatan pada warga yang menghirup asap saban hari membutuhkan perhatian yang tidak kalah mendesak. Mengutip data Kementerian Kesehatan per 21 Oktober 2026, tercatat akumulasi 333.470 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) melanda 68 kabupaten/kota di tujuh provinsi terdampak karhutla, di mana 75.172 kasus (22,5%) antara lain, menyerang balita usia 0–5 tahun dan 258.298 kasus (77,5%) dialami warga usia lebih lima tahun. Tingkat pencemaran udara pun berada pada level ekstrem. Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) per 27 Oktober 2026 menunjukkan angka berbahaya seperti di Banjarmasin (ISPU 1021-PM10) dan Kabupaten Kapuas (ISPU 660-PM2.5). Kondisi kabut asap kuning pekat di langit Kalteng, pekan kedua Oktober 2026. Foto: Krismes Santo Haloho /Mongabay Indonesia Ganggu fungsi organ Herawati mengatakan, paparan partikel halus PM2.5 secara berulang tidak hanya memicu dampak akut seketika seperti batuk dan serangan asma, juga membawa risiko jangka panjang terhadap penurunan fungsi organ, penyakit kardiovaskular, hingga gangguan tumbuh kembang anak di masa depan. Karena itu, skema perlindungan kesehatan harus masuk…This article was originally published on Mongabay