RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak datar dalam perdagangan hari ini. Pasar menunggu data pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III 2026 yang akan di rilis Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini.

Pada perdagangan Rabu kemarin, IHSG ditutup naik 0,32 persen ke level 4.919,77. IHSG sempat bergerak di teritori negatif sepanjang perdagangan, namun berbalik menguat jelang penutupan.

"Secara teknikal, hari ini IHSG diperkirakan akan bergerak sideways (stagnan) pada kisaran 4.800-5.000," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, Kamis, 5 November 2026. Tim Phintraco mencermati perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III tahun ini.

[bacajuga=1;title="Menkeu Pastikan Tidak Ada Penerapan Pajak Baru untuk Transaksi Digital";sumber="berita"]

[bacajuga=2;title="OJK Imbau Masyarakat Tetap Tenang terkait Kendala Transaksi di MNC Bank";sumber="berita"]

"Ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 1,3 persen pada triwulan III. Pertumbuhannya lebih rendah dibandingkan triwulan II yang sebesar 3,73 persen," kata Tim Phintraco.

Sehingga secara tahunan ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 5,2 persen pada triwulan III. Sedangkan pada triwulan II pertumbuhan ekonomi secara tahunan tercatat sebesar 5,29 persen.

"Jika realisasi pertumbuhan ekonomi berada di bawah ekspektasi, hal ini berpotensi menekan sentimen pasar. Karena dapat memperkuat kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dan prospek kinerja emiten," ujar Tim Phintraco.

Sebaliknya, realisasi yang lebih baik dapat menjadi katalis positif bagi pasar. Selain itu, akan memperkuat keyakinan investor terhadap ketahanan fundamental ekonomi domestik.

Tim Phintraco juga mencermati hasi pemilu sela di Amerika Serikat. Kemenangan Partai Demokrat membuat bursa saham di Wall Street naik signifikan.

"Harga minyak juga menurun di bawah 100 dolar AS per barel. Indeks dolar AS terkoreksi dan harga emas diperkirakan 'rebound'," ucap Tim Phintraco.

Menurutnya, kemenangan Partai Demokrat berpotensi mengubah dinamika kebijakan pemerintahan Trump. Terutama terkait kebijakan fiskal, perdagangan internasional, dan hubungan geopolitik.

Hasil pemilu sela, dapat membatasi ruang gerak agenda ekonomi Trump, termasuk kebijakan tarif perdagangan. Sehingga berpotensi memengaruhi prospek pertumbuhan global, arah dolar AS, dan sentimen pasar keuangan.

"Namun arah kebijakan moneter the Fed tetap akan ditentukan oleh kondisi inflasi dan tenaga kerja," kata Tim Phintraco. Sementara inflasi di AS masih relatif tinggi akibat kenaikan harga BBM.