RRI.CO.ID, Jakarta - Sultan Hasanuddin dikenal sebagai sosok pemberani yang gigih mempertahankan kedaulatan Kerajaan Gowa dari penjajahan Belanda. Perjuangannya menentang monopoli perdagangan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) mengantarkannya mendapat julukan ‘Ayam Jantan dari Timur’.
Sultan Hasanuddin merupakan Raja Gowa ke-16 yang berasal dari Gowa, Sulawesi Selatan. Ia memimpin kerajaan tersebut dan mempertahankan kebebasan perdagangan di wilayah timur Nusantara.
Dikutip dari laman Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, Minggu, 8 November 2026, Sultan Hasanuddin menolak praktik monopoli perdagangan Belanda. Ia juga menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya untuk menghadapi upaya penguasaan Gowa.
Pada masa kepemimpinannya, Kerajaan Gowa berkembang sebagai kerajaan maritim dengan kekuatan armada perang. Kebijakan perdagangan bebas menjadi salah satu prinsip penting dalam menghadapi kepentingan dagang VOC.
VOC berusaha menguasai jalur perdagangan rempah-rempah di kawasan timur Nusantara. Persaingan kepentingan tersebut kemudian memicu konflik antara Kerajaan Gowa dan perusahaan dagang Belanda.
[bacajuga=1;title="Silas Papare, Pahlawan Nasional yang Berjuang Menyatukan Papua dengan Indonesia";sumber="berita"]
Konflik tersebut kemudian berkembang menjadi Perang Makassar. Peperangan berlangsung selama empat tahun, mulai tahun 1666 hingga 1669.
VOC mengerahkan pasukan untuk menundukkan Kerajaan Gowa di bawah kepemimpinan Sultan Hasanuddin. Namun, Sultan Hasanuddin bersama pasukannya terus memberikan perlawanan terhadap kekuatan Belanda.
Perlawanan tersebut menghadapi tekanan ketika VOC memperkuat serangannya dengan bantuan sejumlah kerajaan sekutu. Kondisi tersebut membuat posisi Kerajaan Gowa semakin sulit menghadapi kekuatan lawan.
Pada 18 November 1667, Sultan Hasanuddin akhirnya menandatangani Perjanjian Bungaya. Pemerintah Kabupaten Gowa mencatat perjanjian tersebut sebagai kesepakatan damai antara Kerajaan Gowa dan VOC.
Namun, Kerajaan Gowa kemudian merasa dirugikan oleh isi perjanjian tersebut. Pada 9 Maret 1668, Sultan Hasanuddin kembali mengangkat senjata untuk menghadapi Belanda.
Pertempuran berlanjut hingga VOC berhasil menaklukkan Benteng Somba Opu pada 24 Juni 1669. Peristiwa tersebut menandai berakhirnya perlawanan besar Kerajaan Gowa terhadap kekuatan VOC.
[bacajuga=2;title="Presiden Terima Menbud di Istana, Terima Rekomendasi Calon Pahlawan Nasional";sumber="berita"]
Kegigihan Sultan Hasanuddin dalam menghadapi Belanda membuatnya memperoleh julukan ‘Ayam Jantan dari Timur’. Julukan tersebut mencerminkan keberanian dan semangat perjuangannya mempertahankan kedaulatan kerajaan.
Sultan Hasanuddin kemudian mengakhiri masa pemerintahannya pada 1 Juni 1669. Ia wafat pada 12 Juni 1670 setelah menjalani perjuangan panjang menghadapi kekuatan VOC.
Pemerintah Indonesia menetapkan Sultan Hasanuddin sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 087/TK/Tahun 1973. Pengakuan tersebut menjadi bentuk penghargaan negara terhadap perjuangannya melawan kolonialisme. (Reporter: Davina Keisha Salsabila)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.