RRI.CO.ID, Teheran — Mediator dari Qatar kembali mengunjungi Teheran pada Jumat, 30 Oktober 2026. Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya mencapai kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran dilansir dari Reuters.

Seorang pejabat yang mengetahui pembicaraan tersebut menyampaikan kepada Reuters bahwa proses mediasi itu telah dikoordinasikan dengan pemerintah AS. Sebelumnya, Qatar telah menyerahkan rancangan rencana perdamaian kepada Iran pada Minggu, 25 Oktober 2026.

[bacajuga=1;title="Qatar-Prancis Desak Pembukaan Selat Hormuz dan Gencatan Senjata Gaza";sumber="berita"]

Namun, seorang pejabat senior Iran menolak usulan tersebut karena dinilai tidak dapat diterima. Ia juga menegaskan bahwa Teheran akan tetap mempertahankan posisinya terkait program nuklir.

Perbedaan pandangan mengenai isu nuklir menjadi salah satu hambatan utama dalam proses negosiasi. Pemerintah AS menginginkan pembahasan mengenai program nuklir Iran dimasukkan sejak awal perundingan.

[bacajuga=2;title="Qatar Peringatkan Risiko Perang Regional di tengah Perundingan Iran-AS";sumber="berita"]

Sementara itu, Teheran menuntut agar Washington terlebih dahulu mengakhiri blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan mencabut sanksi terhadap ekspor minyaknya. Meski terdapat perbedaan tuntutan, Iran menyatakan tetap menjalin komunikasi dengan para mediator untuk mencari jalan keluar dari konflik.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa Teheran masih menjalin komunikasi erat dengan pihak-pihak yang terlibat dalam mediasi. Komunikasi tersebut dilakukan untuk meninjau berbagai gagasan yang berpotensi mengakhiri perang di Timur Tengah.

[bacajuga=3;title="Emir Qatar Serukan Pertanggungjawaban Pelaku Genosida di Gaza";sumber="berita"]

Araghchi juga menyampaikan bahwa Iran sedang mengkaji langkah-langkah untuk memastikan penerapan proposal tujuh hari yang diajukan Teheran. Proposal tersebut merupakan inisiatif Iran yang bertujuan mengakhiri perang dan membuka jalan menuju perdamaian.

Kembalinya mediator Qatar ke Teheran menunjukkan bahwa upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan antara AS dan Iran masih berlangsung. Namun, perbedaan pandangan mengenai program nuklir, blokade pelabuhan, serta sanksi ekspor minyak masih menjadi tantangan dalam proses negosiasi kedua negara.