RRI.CO.ID, Jakarta - Silas Avari Donrai Papare tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa sebagai tokoh Papua yang memperjuangkan penyatuan wilayahnya dengan Republik Indonesia. Ia Lahir di Kampung Ariepi, Serui, Yapen Waropen, pada 18 Desember 1918 dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menjunjung tradisi lokal.
Dilansir dari Ensoklopedia Kemenbud, Pada 1927 hingga 1930, Silas Papare bersekolah di Sekolah Desa (Volkschool) Serui. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya pada Sekolah Juru Rawat di Serui dari 1931 hingga 1935.
"Sejak 1936 diangkat sebagai tenaga medis di Rumah Sakit Perusahaan Nederlandsch Nieuw Guinea Petroleum Maatschappij (NNGPM) hingga 1940. Setelah itu Silas Papare menjadi tenaga medis hingga Kepala Rumah Sakit Zending di Serui," (Leirissa, 1997: 55-65).
Namun, perjalanan hidupnya berubah ketika Belanda kembali berupaya mempertahankan kekuasaannya di Papua setelah kekalahan Jepang pada 1945. Silas mulai terlibat dalam gerakan perlawanan untuk memperjuangkan masa depan Papua.
Pertemuannya dengan sejumlah aktivis kemerdekaan Indonesia turut memengaruhi pandangan perjuangannya. Bersama tokoh pergerakan lainnya, Silas mengorganisasi perlawanan terhadap Belanda di Serui, Biak, dan Manokwari sepanjang 1946.
Perjuangan tersebut membuat Silas beberapa kali ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda. Meski menghadapi tekanan, ia tetap melanjutkan perjuangannya melalui jalur organisasi dan politik.
"Di dalam pengasingan, pada 1946 Silas Papare bertemu dengan Sam Ratulangie. Mengintrodusir berdirinya Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII) yang mana Silas Papare menjadi ketuanya," (Lumintang, 2009: 56-57).
Silas kemudian dipercaya memimpin PKII untuk memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatan Papua dari kekuasaan kolonial Belanda. Perjuangan Silas tidak hanya dilakukan melalui perlawanan, tetapi juga jalur diplomasi.
Ia mewakili kelompok Papua dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada Desember 1949.Upaya memperjuangkan penyatuan Papua dengan Indonesia kemudian berlanjut melalui jalur diplomatik.
Pada 1962, Silas menjadi anggota delegasi Republik Indonesia dalam penandatanganan Persetujuan New York antara Indonesia dan Belanda. Perjuangan yang ditempuh Silas menunjukkan keterlibatannya dalam upaya politik untuk menyatukan Papua dengan Republik Indonesia.
Selain aktif dalam perjuangan politik, Silas juga memperoleh kepercayaan sebagai wakil rakyat Papua. Ia terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sementara dan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara pada 1954 hingga 1960.
Silas meninggal dunia di RS Pertamina, 7 Maret 1979 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Trikora, Serui. Atas jasa-jasanya dalam perjuangan bangsa, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Silas Papare pada 1993. (Reporter: Herdi)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.