RRI.CO.ID, Jakarta – Pasangan ganda putri Indonesia, Amallia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti menjadi juara di Hylo Open 2026. Pada partai puncak turnamel berlevel Super 500 tersebut, Tiwi/Fadia mengalahkan pasangan Taiwan, Hsu Yin-Hui/Lin Jhih Yun.

Tiwi/Fadia menang straight set atas unggulan satu turnamen dengan skor akhir 21-18, 21-19 dalam tempo 45 menit permainan. Pertandingan berlangsung di lapangan 1 Saarlandhalle, Jerman, pada Minggu 1 Oktober 2026 malam WIB.

Dalam keterangan resmi usai pertandingan, Amallia Cahaya Pratiwi mengaku senang dapat meraih kemenangan ini. “Perasaannya sangat senang dan bersyukur bisa upgrade gelar sama Fadia,” ucapnya.

Tiwi melanjutkan dengan penjelasan jalannya pertandingan. Menurutnya bahwa pertandingan berjalan cukup ketat, namun berkat arahan pelatih Karel Mainaky, Tiwi/Fadia mampu tampil lebih berani.

“Permainan tadi cukup ketat, dari awal sampai game poin, tapi kami mencoba untuk tetap tenang, fokus, dan tidak terburu-buru. Coach Karel banyak mengingatkan untuk lebih berani, saling menutup satu sama lain, nekat, dan memaksa karena ini match terakhir,” kata Tiwi.

Gelar ini bagi Tiwi/Fadia sangatlah berharga karena menjadi bukti dan modal melaju lebih jauh lagi. Tiwi mempersembahkan gelar ini kepada para pelatih, tim ganda putri Indonesia, keluarga, pasangan, dan seluruh rakyat Indonesia.

“Gelar ini sangat berarti bagi saya untuk modal kami melaju lebih jauh lagi. Gelar ini dipersembahkan untuk Coach karel, Coach Nitya, Coach Kelana, tim ganda putri Indonesia, keluarga dan pasangan saya yang selalu mendukung saya bagaimanapun keadaan saya, tidak lupa seluruh rakyat Indonesia yang selalu percaya dan mendukung kami,” ujarnya.

Sementara itu, Siti Fadia Silva Ramadhanti menyebut bahwa dirinya senang sekali dapat meraih medali Super 500. Menurutnya, secara permainan, tidak ada perubahan strategi sepanjang pertandingan berlangsung.

“Alhamdulillah sangat senang dan bahagia karena kami bisa mengambil gelar di super 500 kali ini. Secara permainan sebenarnya tidak ada yang berubah dari lawan, kami menerapkan strategi yang sama di game pertama dan game kedua, namun di game kedua kami terlalu banyak melakukan kesalahan sendiri dan lawan jadi lebih berani buat menyerang kami,” katanya.

Fadia bercerita bahwa pada tahun 2023 lalu ia pernah mencapai final Hylo Open bersama Apriyani Rahayu. Cedera yang dialami Apriyani kala itu memberi trauma dan luka tersendiri bagi Fadia.

Pengalaman itu membuat Fadia sempat merasakan kesedihan memasuki partai final. Akan tetapi, ia terus mengupayakan diri untuk tetap tenang dan menjaga fokus.

“Tahun 2023 saya mencapai babak final Hylo Open bersama Apriyani Rahayu. Sempat ada trauma, karena di game pertama sudah menang namun di game kedua kak Apriyani saat itu cedera. Sebelum pertandingan agak kebayang-bayang juga dan sedihnya ada juga, tapi berusaha fokus lagi pas udah di lapangan, lebih tenang dan lebih atur nafasnya lagi,” katanya.