RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Alim Setiawan Slamet mempercepat pengembangan kedelai nasional melalui kolaborasi dengan Universitas Gadjah Mada (UGM). Program tersebut menyasar peningkatan produktivitas, optimalisasi pola tanam, dan pengurangan ketergantungan terhadap impor.
Kementerian Pertanian (Kementan) memulai program pengembangan kedelai tersebut di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Kolaborasi ini melibatkan pemerintah daerah, perguruan tinggi, serta mitra usaha untuk memperkuat produksi dari hulu hingga hilir.
“Sebagian besar masyarakat kita tentu mengonsumsi tempe dan tahu. Kedelai menjadi salah satu sumber protein utama,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang dikutip RRI, Kamis, 5 November 2026.
Ia mengatakan peningkatan produksi kedelai menjadi upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor. Pemerintah juga mendorong peningkatan produksi dalam negeri sesuai arahan Presiden dan Menteri Pertanian.
Grobogan menjadi lokasi awal pengembangan karena memiliki sejarah panjang sebagai sentra produksi kedelai nasional. Produktivitas kedelai di wilayah tersebut juga relatif lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.
Pemerintah menargetkan pengembangan kedelai melalui program bantuan seluas 50.000 hektare pada tahun ini. Pemerintah memperkirakan program tersebut menghasilkan 150.000 ton kedelai dengan produktivitas tiga ton per hektare.
[bacajuga=1;title="Kementan Perkuat Kompetensi Petani Kutai Barat";sumber="berita"]
“Kalau kita bisa mencapai produktivitas 3 ton per hektare, dari 50.000 hektare saja potensinya bisa mencapai 150.000 ton. Ini yang ingin kita dorong melalui percepatan tanam, penerapan teknologi, dan pendampingan kepada petani,” katanya.
Saat ini, produktivitas kedelai nasional masih berkisar 1,6-1,8 ton per hektare. Karena itu, Kementan mendorong peningkatan hasil panen sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan lahan pertanian.
Ia menegaskan pengembangan kedelai tidak harus melalui pembukaan lahan pertanian baru. Pemerintah mengutamakan pengaturan pola tanam agar pengembangan kedelai tidak mengganggu produksi padi.
“Kita tidak harus membuka lahan baru, yang perlu dilakukan adalah mengoptimalkan pola tanam yang sudah ada. Dengan pengaturan pola tanam yang tepat, lahan pertanian bisa dimanfaatkan lebih produktif tanpa mengganggu produksi padi,” katanya.
Kementan menargetkan pengembangan kedelai seluas 5.025 hektare di Kabupaten Grobogan. Dengan produktivitas tiga ton per hektare, program tersebut berpotensi menghasilkan lebih dari 15.000 ton kedelai.
[bacajuga=2;title="Kementan Siapkan Pasokan Cabai ke Daerah Defisit";sumber="berita"]
Kolaborasi Kementan dan UGM juga mencakup penerapan teknologi serta peningkatan kapasitas petani. Kerja sama tersebut turut memperkuat kelembagaan dan pengelolaan hasil produksi.
“Kita ingin program ini benar-benar menjadi model. Semua pihak terlibat, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, hingga mitra usaha,” ucapnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian UGM, Subejo, mengatakan pihaknya mendukung penerapan teknologi tepat guna. UGM juga mendorong pemanfaatan pengetahuan lokal sesuai potensi dan karakteristik wilayah.
“Teknologi yang diterapkan harus tepat guna dan dapat diadopsi oleh petani. UGM akan mengawal penerapan teknologi ini sekaligus membuka ruang bagi pengembangan nilai-nilai lokal yang menjadi keunggulan masing-masing daerah,” ujarnya. (Reporter: Davina Keisha Salsabila)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.