RRI.CO.ID, Jakarta — Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional diperingati setiap 5 November untuk meningkatkan kepedulian terhadap keanekaragaman hayati. Salah satu kekayaan flora Indonesia yang menarik perhatian adalah anggrek biru Waigeo dari Raja Ampat, Papua Barat Daya.

Anggrek tersebut memiliki nama ilmiah Dendrobium azureum. Warna biru alaminya menjadi daya tarik tersendiri karena bunga berwarna biru tergolong jarang ditemukan pada anggrek.

Royal Botanic Gardens, Kew mencatat anggrek biru Waigeo memiliki sejarah penemuan yang cukup panjang. Spesimennya pertama kali dikumpulkan peneliti Inggris, Lucy Evelyn Cheesman, pada 17 Juni 1938.

Cheesman mengumpulkan spesimen tersebut ketika melakukan penelitian di puncak Gunung Nok, Pulau Waigeo. Namun, anggrek itu baru dikenali sebagai spesies baru pada tahun 2013 oleh ahli anggrek André Schuiteman.

Anggrek biru Waigeo termasuk tumbuhan endemik yang secara alami hanya ditemukan di wilayah tertentu. Habitat alaminya berada di hutan pegunungan Pulau Waigeo yang memiliki lingkungan lembap.

[bacajuga=1;title="Flor del Espiritu Santo, Bunga Nasional Panama yang Mirip Burung Merpati";sumber="berita"]

Tumbuhan ini hidup menempel pada batang pohon tanpa mengambil nutrisi dari inangnya. Cara hidup tersebut disebut epifit dan umum ditemukan pada berbagai jenis anggrek.

Keberadaan anggrek biru Waigeo menghadapi ancaman akibat kerusakan habitat. Dosen konservasi tumbuhan IPB University, Dr. Agus Hikmat, menyebut deforestasi dan pengambilan tanaman untuk perdagangan sebagai ancaman utama.

Pembukaan hutan dan kebakaran juga berpotensi merusak habitat alaminya. Perubahan iklim dapat semakin memengaruhi kondisi lingkungan yang dibutuhkan anggrek tersebut.

Fauna & Flora memperkirakan jumlah anggrek biru Waigeo di alam kurang dari 100 individu berdasarkan informasi ekspedisi mereka. Populasi yang terbatas dan persebaran sempit membuat perlindungan habitatnya semakin penting.

Upaya pelestarian dapat dilakukan melalui perlindungan hutan dan pengawasan pengambilan tanaman dari alam. Kerja sama pemerintah, masyarakat setempat, dan organisasi konservasi juga diperlukan untuk menjaga keberadaannya. (Rahmania Ulfah)