RRI.CO.ID, Jakarta - Hari Wayang Nasional 2026 menjadi momentum mengenalkan seni pedalangan kepada generasi muda melalui kiprah para dalang muda Indonesia. Salah satunya Hamada Azmi Faruqi, yang mempelajari keterampilan mendalang sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi pewayangan di tengah perkembangan zaman.
Ia mengatakan, seorang dalang perlu menguasai sejumlah kemampuan dasar sebelum membawakan pertunjukan di hadapan penonton secara langsung. Menurutnya, proses belajar pedalangan berlangsung panjang karena mencakup penguasaan cerita, percakapan tokoh, olah suara, hingga teknik memainkan wayang.
"Dasar menjadi dalang itu kemampuan berbicara dan memahami cerita, lalu menguasai percakapan dalam pewayangan. Ada juga suluk atau tembang, serta teknik memegang wayang yang harus terus saya pelajari," katanya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Sabtu, 7 November 2026.
Ia mengaku dirinya masih terus belajar dan belum merasa menguasai seluruh aspek seni pedalangan tradisional Indonesia. Ia menilai, kemampuan tersebut saling berkaitan sehingga seorang dalang perlu berlatih konsisten untuk membangun pertunjukan yang utuh.
Pengalaman tampil pertama kali dirasakannya ketika masih duduk di kelas tiga sekolah dasar, sekitar 2016 atau 2017. Saat itu, ia mengikuti penampilan ayahnya dan mendapat kesempatan membawakan sebagian kecil adegan dalam pertunjukan wayang.
"Kalau tidak salah, pertama kali tampil saat kelas tiga, sekitar 2016 atau 2017. Waktu itu hanya sedikit adegan karena saya ikut bapak yang sedang tampil," ujarnya.
Dukungan keluarga turut menguatkan langkah Hamada menekuni dunia pedalangan, termasuk ketika dirinya mendapat kesempatan tampil di berbagai acara. Orang tuanya memberikan restu atas pilihan tersebut, bahkan mendukung kegiatan Hamada dalam mengembangkan kemampuan seni tradisional.
[bacajuga=3;title="Ajak Generasi Muda Cinta Budaya, Inilah Ucapan Hari Wayang Nasional 2026";sumber="berita"]
[bacajuga=2;title="Hari Wayang Nasional 2026, Inilah Tokoh-Tokoh Ikonik Wayang Golek";sumber="berita"]
[bacajuga=1;title="Mengenal Hari Wayang Nasional, Warisan Budaya yang Sarat Nilai Kehidupan";sumber="berita"]
Ia juga bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa Karawitan Setia Laras di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Keikutsertaan itu memberinya ruang belajar lebih terarah setelah sebelumnya mengenal pedalangan secara otodidak melalui latihan mandiri.
"Orang tua sangat mendukung apa yang saya inginkan dalam dunia pewayangan, termasuk ketika saya tampil. Di kampus, saya bergabung dengan UKM Karawitan Setia Laras sehingga bisa belajar lebih banyak," ujarnya.
Melalui proses belajar tersebut, ia berharap dapat terus mengembangkan keterampilan sekaligus ikut menjaga keberadaan seni wayang di Indonesia. Semangat generasi muda seperti dirinya menjadi bagian penting dalam merawat tradisi pedalangan agar tetap dikenal lintas generasi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.