RRI.CO.ID, Jakarta - Di tengah beragam kuliner Betawi, Sayur Babanci menjadi hidangan tradisional yang semakin sulit ditemukan. Keberadaannya kian terbatas karena proses memasak yang rumit dan sejumlah rempah penyusunnya sulit diperoleh.
[bacajuga=1;title="Mengenal Ekiben, Bekal Kereta yang Jadi Ikon Kuliner Jepang";sumber="berita"]
Namanya mungkin membuat orang membayangkan hidangan berisi aneka sayuran. Namun, kuliner khas Betawi ini justru mengandalkan kuah santan, ketupat, daging, dan racikan rempah.
Sayur Babanci lekat dengan penyajian ketupat, sehingga masyarakat juga mengenalnya sebagai Ketupat Babanci. Hidangan ini menggunakan daging sapi atau kerbau sebagai bahan utama, dengan tambahan kelapa muda dan petai.
Melansir Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), sayur babanci dikenal sebagai hidangan istimewa keluarga mandor dan tuan tanah Betawi. Hidangan ini biasanya disajikan saat perayaan Idulfitri untuk keluarga maupun tamu.
Babanci disebut sebagai hasil akulturasi budaya Betawi dan masyarakat Tionghoa. Asal namanya diyakini berkaitan dengan gabungan sebutan babah dan enci dalam budaya Peranakan.
Ciri khas Babanci terletak pada racikan rempah yang memadukan bahan umum dengan sejumlah bahan yang kini sulit diperoleh. Empat di antaranya ialah temu mangga, botor, kedaung, dan tai angin.
Masing-masing bahan memberikan karakter berbeda, mulai dari aroma harum dan rasa pedas hingga sensasi hangat dan mentol. Perpaduan tersebut menghasilkan cita rasa kompleks yang membedakan Babanci dari hidangan Betawi lainnya.
Proses memasaknya menuntut ketelitian karena pembuat harus mengolah bumbu dan bahan secara bertahap agar rasa tetap seimbang. Resep Babanci dapat melibatkan sekitar 21 bahan, bumbu, dan rempah dalam pengolahannya.
Daging kepala sapi menjadi salah satu bahan yang digunakan, sementara bagian lidah, otak, dan cingur tidak disertakan. Pengolahannya membutuhkan waktu panjang, bahkan perebusan daging kepala sapi saja dapat berlangsung sekitar empat jam hingga empuk.
Kesulitan memperoleh rempah dan rumitnya teknik memasak ikut membatasi keberadaan Babanci di warung maupun restoran Jakarta. Bahan serta pengolahan yang kurang tepat dapat membuat rasa hidangan berubah. (Shafa)
[bacajuga=2;title="KSTI 2026 Pamerkan 490 Produk Riset dari 205 Perguruan Tinggi";sumber="berita"]
[bacajuga=3;title="Dua Tahun YXCI Depok Chapter, CGE Avenue Tapos Jadi Titik Kumpul Bikers";sumber="berita"]
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.