RRI.CO.ID, Jakarta - Minat generasi muda terhadap seni wayang masih menjadi perhatian, terutama ketika pilihan hiburan beragam di tengah perkembangan zaman. Dalang muda, Hamada Azmi Faruqi mengakui ketertarikan teman-teman seusianya terhadap pertunjukan wayang belum tumbuh secara merata hingga kini.

"Saya merasakan sendiri respons teman-teman sebaya terhadap wayang masih kurang, meskipun mereka menyukai kesenian tradisional lainnya di Banyumas. Mereka lebih mengenal ebeg, kentongan, lengger, atau tari, sementara wayang belum mendapat perhatian sebesar kesenian tersebut di Banyumas," ucapnya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Sabtu, 7 November 2026.

Menurutnya, kondisi itu tidak berarti anak muda meninggalkan budaya tradisional, tetapi ketertarikan mereka tersebar pada berbagai kesenian. Ia menilai seniman muda bersama para dalang perlu mencari cara agar pertunjukan wayang kembali dekat dengan kehidupan generasi sekarang.

Salah satu penyebabnya ialah cerita dan bahasa pewayangan terkadang sulit dipahami penonton muda yang belum akrab dengan tradisinya. Selain itu, durasi pertunjukan semalam suntuk dari malam hingga pagi dapat membuat sebagian penonton muda merasa bosan sekarang.

"Ketika ceritanya kurang dipahami dan pertunjukannya berlangsung sangat lama, anak muda bisa kehilangan minat untuk terus menyaksikan pertunjukan. Mereka juga terkadang hanya melihat tokoh wayang, tanpa memahami filosofi atau pesan yang disampaikan melalui cerita tersebut secara utuh," ucapnya.

[bacajuga=3;title="Ajak Generasi Muda Cinta Budaya, Inilah Ucapan Hari Wayang Nasional 2026";sumber="berita"]

[bacajuga=2;title="Hari Wayang Nasional 2026, Inilah Tokoh-Tokoh Ikonik Wayang Golek";sumber="berita"]

[bacajuga=1;title="Mengenal Hari Wayang Nasional, Warisan Budaya yang Sarat Nilai Kehidupan";sumber="berita"]

Ia menyebut penonton perlu mendapat pengalaman yang utuh, bukan sekadar menyaksikan tokoh bergerak mengikuti alur cerita pewayangan. Pemahaman terhadap filosofi cerita dinilai penting karena nilai kehidupan menjadi salah satu kekuatan utama dalam seni pertunjukan wayang.

Cara dalang menyajikan pertunjukan juga berpengaruh terhadap penerimaan penonton, terutama ketika pendekatan yang digunakan terasa kurang dekat. Menurutnya, sebagian pertunjukan masih mengikuti pola lama sehingga belum menjawab kebutuhan dan kebiasaan penonton muda saat ini.

"Dalang juga perlu memikirkan cara mengemas pertunjukan agar lebih menarik, tanpa menghilangkan nilai dan pakem dalam seni pewayangan. Dengan begitu, penonton muda bisa menikmati ceritanya sekaligus memahami pesan yang ingin disampaikan melalui setiap lakon wayang tersebut," ujarnya.

Upaya mengenalkan wayang kepada generasi muda membutuhkan kreativitas, komunikasi yang mudah dipahami, serta ruang perjumpaan yang lebih luas. Peran seniman dan komunitas budaya menjadi penting untuk menghadirkan pengalaman menonton yang relevan bagi anak muda masa kini.

Momentum Hari Wayang Nasional 2026 menjadi pengingat pentingnya regenerasi dalang dan pengenalan seni wayang kepada generasi muda Indonesia. Melalui pendekatan yang lebih dekat dan menarik, warisan budaya ini diharapkan hidup serta mendapat tempat di hati generasi penerus.